Langsung ke konten utama

Postingan

Aku Kembali!

      Hi! Aku kembali.     Sudah lama sejak terakhir kali aku menggoreskan tinta di lamanku. Senang rasanya bisa kembali lagi dan mulai mewarnai laman yang sudah lama tak terjamah ini. Sejauh ini aku masih belum mendapatkan ide untuk mengisi laman ini lagi tapi cepat atau lambat aku akan mencari ide. Mungkin akan aku mulai dari apa yang selama ini aku rasakan yang nantinya akan aku tuangkan kembali dalam tulisan-tulisanku.     Aneh. Rasanya aneh bisa kembali aktif menulis lagi. Apalagi momennya sangat tepat di penghujung tahun 2023. Sebagai tanda kembalinya aku di sini aku ingin sedikit mencurahkan perasaanku dan harapanku di tahun yang baru nanti.     Baik, mari kita mulai dari apa yang aku rasakan beberapa waktu yang lalu sampai dengan sekarang. Jujur aku tidak tahu harus menuliskan atau menjelaskan dari mana. Karena begitu banyak momen dan peristiwa yang telah aku lalui dari terakhir kali aku aktif menulis. Hmm, aku sed...

Hidup Untuk Orang Lain

Awan hitam kembali menyelimuti hati dan pikiranku ketika aku menyadari bahwa aku tidak hidup untuk diriku sendiri. Aku hidup untuk orang lain. Aku hidup untuk diterima orang lain bukan diterima oleh diriku sendiri. Menjadi diri yang tidak enak-an, selalu mengiyakan dan takut dipandang buruk orang lain. Lelah juga rasanya terus membohongi diri. Pernah gak sih kalian merasa se-insecure itu sama diri sendiri? Mungkin ada yang pernah dan mungkin juga ada yang baik-baik saja melaluinya. Tapi entah mengapa aku selalu merasa insecure di setiap saat dan di setiap waktu. Aku selalu merasa bahwa aku ini berbeda dari orang lain. Aku selalu merasa bahwa orang-orang tidak mempedulikan aku. Aku selalu merasa bahwa orang-orang tidak benar-benar menganggap aku ada. Maka dari itu aku sering berusaha untuk menyenangkan orang lain. Mengiyakan setiap yang diminta. Memberikan setiap yang aku punya. Berkorban untuk orang lain secara berlebihan. Bodohnya, bahkan untuk diri sendiri hanya sedikit aku melakukan...

Kemana?

"Kau siapa?" "Aku dirimu" "Tapi Aku tak pernah mengenalimu" "Itu salahmu, bukan salahku" "Kau tak mirip denganku" "Sekali lagi itu salahmu, bukan salahku" "Kau nampak beda, kau nampak bahagia" "Karena aku tau apa yang aku mau" "Aku tak tau apa yang aku mau. Kau bukan aku" "Aku adalah dirimu!" "Tidak, sekali-kali kau bukanlah aku" "Aku adalah kau. Salahmu yang tak mengenali dirimu" "Bukan salahku aku tak mengenali aku" "Juga bukan salahku kau selalu begitu" "Apa yang kau maksud?" "Kecewa dengan dirimu" "Aku tak pernah kecewa" "Dusta" "Aku tak berdusta" "Bahkan kau tak jujur dengan dirimu" "Aku jujur" "Dusta" "Kau bukanlah aku" "Aku adalah kau" "Kau menuduh aku berdusta padahal aku tidak" "Faktanya dirimu berdusta" "Terserah, a...

Pelipur Luka

Dan malam ini aku berteriak BAJINGAN!  Untuk sepi yang semakin menikam Tak tertahan dan tak berperasaan Membunuhku secara perlahan BAJINGAN! Tentang kehidupan Gumpalan kebohongan dan kedustaan BAJINGAN! Dengan kumpulan orang-orang Mereka hanya memainkan peran kebohongan Berlagak bahagia di depan kerumunan Menangis tersedu di kala sendirian BAJINGAN! Harus sejauh apa lagi aku bertahan Tanpa belaian kasih sayang dan perhatian BAJINGAN! Bahagia ku tak ada yang menyambut Tawaku tak ada yang menyahut Sedihku tak dipedulikan Laraku sebatas candaan BAJINGAN! Dengan kata ini aku mengutarakan Apa yang tak bisa aku sampaikan Karena tak ada siapa untuk ku peluk Tak ada siapa untuk ku beri senyum Siapa yang terus menjadi siapa Hanya terus bertanya tanpa terjawab Maka BAJINGAN aku pilih sebagai pelipur luka Jiwa yang lara!   (/MIM) 

Resensi Buku Politik Kuasa Media: Noam Chomsky

Dalam negara demokrasi negara harus memberikan jaminan kebebasan pers atau media massa sebagai salah satu kriteria dari sebuah negara demokrasi. Namun dalam perkembangannya pers atau media massa saat ini justru seringkali memberitakan informasi yang tidak sepenuhnya fakta yang ada di lapangan. Ditambah dengan perkembangan teknologi yang terlalu cepat serta kemampuan adaptasi warga masyarakat yang lambat menjadikan ketidakseimbangan pemahaman dalam penggunaan gawai sebagai salah satu fasilitas memperoleh informasi dari hasil pers. Belum lagi hadirnya berbagai platform sosial media berupa twitter, facebook, tiktok, instagram, dan masih banyak lagi yang semakin menjadikan penyebaran informasi semakin cepat namun seringkali tanpa validasi yang menjadikan informasi-informasi yang muncul justru disinformasi alias informasi yang menyesatkan Hal ini yang ingin coba saya kulik dalam tulisan saya kali ini. Tulisan ini nantinya akan mencoba melihat fenomena di atas dengan merujuk salah satu buku ...

Akankah?

Sore hari itu, empat puluh tahun yang lalu menjadi awal dari kehidupan berat yang akan dilaluinya. Ia tak terlalu ingat persis bagaimana semuanya terjadi. Karena semua terjadi dengan begitu cepat sehingga ingatan masa kecilnya sulit merekam semuanya. Kejadian itu terjadi pada tahun 2001. Ia masih seorang bocah berusia empat tahun. Umur yang masih begitu belia harus ternodai dengan goresan luka yang dulu tak terasa perih tetapi seiring beranjak dewasa semakin ‘membunuh’-nya. Menggerogoti sejengkal demi sejengkal tiap bagian jiwa dan raganya dengan rasa duka dalam sedalam palung Mariana. Azan ashar baru saja selesai berkumandang saat seorang perempuan yang kala itu berusia tiga puluh tujuh tahun berlari mondar-mandir dengan air muka sedih, panik, takut, dan bingung. Dengan kalut si wanita memberi perintah kepada anak lelakinya yang paling tua, “ Leee (panggilan orang jawa untuk anak laki-laki dari kata “thole”), titip adik-adikmu dulu ya. Bawa mereka ke tempat Mbah Minto. Ibu tak ngu...

Ritual Penarik Bala

Hujan turun dengan derasnya di malam itu. Suara tetesan air hujan yang jatuh ke tanah mampu menjadi senandung rindu dengan tiupan hawa dinginnya yang membuat bulu kuduk menari-nari. Ia sedang menikmati segelas americano panas yang baru saja mendarat dihadapannya ketika dalam tegukan pertama Ia langsung merasakan kantung kemihnya penuh dengan cairan yang menuntut untuk dikeluarkan. Tanpa berpikir panjang Ia bangkit dari tempat duduknya. Memundurkan sedikit kursinya, memberikan ruang pada pantatnya untuk hengkang dari alas kursi yang sudah mulai hangat itu. Ia berjalan dengan pasti sembari membayangkan kelegaan yang akan Ia rasakan setelah membuang semua cairan yang kini sudah mulai mengganggu kenyamanannya. Sesampainya di depan toilet Ia tertegun dengan sebuah tulisan besar dengan huruf kapital yang berbunyi “MOHON MAAF TOILET SEDANG RUSAK”. “Mati aku”, pikirnya dalam hati. Ia sempat menghabiskan beberapa waktu celingak-celinguk mencari pelayan cafe yang sekiranya dapat Ia tanyai....