Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2026

Bahasa Cinta Tuhan

Dulu, saat kecil, aku selalu diajarkan bahwa Tuhan Maha Pemarah. Ketika aku tidak berperilaku baik maka ungkapan Tuhan akan menghukumku di neraka nyaring terdengar. Saat aku malas untuk sholat, orangtuaku selalu menakut-nakutiku dengan kemarahan Tuhan. Aku mengenal agama dan Tuhanku dengan prinsip 'iya atau tidak sama sekali'. Sehingga seperti tidak memberikan kesempatan untuk sisi manusiawiku terlibat di dalamnya. Menjadikanku seseorang yang gagal paham atau salah paham terhadap Tuhanku. Kesalahpahamanku berlanjut hingga aku dewasa. Aku hidup dengan penuh tekanan dari identitas keagamaanku. Aku dibuat takut oleh persepsi salahku tentang Tuhanku. Ditambah dengan beban mental dan emosional yang cacat akibat kondisi keluargaku yang disfungsional. Kombinasi yang mematikan bagi seorang manusia untuk mengutuki kehidupan yang hanya sekali ini. Memalingkannya dari perasaan syukur dan berkecukupan, menjadi perasaan takut yang berlebihan. Keterpurukanku terus berlanjut sampai pada satu ...

Hal-hal yang Ada di Kepala Saat Ini

Siang ini sehabis selesai melakukan ibadah salat zuhur, aku memutuskan mengisi kembali blogku dengan tulisanku. Sudah sepuluh hari lebih semenjak terakhir kali aku menuliskan isi kepalaku. Hal terakhir yang aku tulis adalah tentang bentuk-bentuk ketakutanku yang selalu menghantui. Ketakutan yang menjadikan diriku selalu melihat dunia dengan kacamata kejahatan. Dunia adalah tempat paling tidak aman bagiku. Padahal aku hidup dan tinggal di dalamnya. Sebuah paradoks. Kali ini, tidak ada tema khusus yang ingin aku angkat. Sekadar iseng-iseng saja sekaligus pemanasan sebelum aku mencoba menulis esai Beasiswa LPDP. Rasanya masih berat untuk memulai menulis esai. Jangan-jangan dengan senyap 'ketakutan' telah berhasil menyergapku. Membisikiku dengan sangat halus bahwa menulis esai adalah pekerjaan yang rumit. Tugas yang melelahkan. Perlu banyak mengursa pikiran. Sehingga menulis esai tidak cocok untuk dilakukan di akhir pekan yang santai ini. Aku sangat setuju. Rasanya ingin seharian t...

Takut

Beberapa waktu lalu aku baru menyadari bahwa tantangan terbesar dalam hidupku adalah ketakutan. Entah sudah sejak kapan rasa ini bersemanyam dalam diriku namun yang pasti perasaan ini berhasil menumbangkanku. Tidak ada tanda-tanda pasti bahwa aku terjangkiti penyakit ini. Ketakutan bisa mencengkeramku tanpa pernah aku sadari. Hanya saja efek yang ditimbulkan begitu jelas terlihat dalam kehidupanku sehari-hari. Ketakutan membuatku gagal berkembang. Saat ingin memulai sesuatu yang baru, aku selalu dihantui kegagalan. Otak langsung berpikir jauh tentang hal-hal buruk yang akan terjadi. Semisal otak akan berpikir dan berkata padaku, kalau kamu gagal tidak ada orang yang akan menyukaimu. Kalau tidak ada orang yang menyukaimu kamu akan kesepian. Kalau kamu kesepian berarti kamu gagal menjadi manusia, kamu tidak menarik, kamu buruk. Sehingga menjadikanku selalu menahan diri untuk tidak berkembang memaksimalkan potensi yang aku miliki. Dalam hubungan, ketakutan juga menghambatku untuk memiliki...