Langsung ke konten utama

Takut

Beberapa waktu lalu aku baru menyadari bahwa tantangan terbesar dalam hidupku adalah ketakutan. Entah sudah sejak kapan rasa ini bersemanyam dalam diriku namun yang pasti perasaan ini berhasil menumbangkanku. Tidak ada tanda-tanda pasti bahwa aku terjangkiti penyakit ini. Ketakutan bisa mencengkeramku tanpa pernah aku sadari. Hanya saja efek yang ditimbulkan begitu jelas terlihat dalam kehidupanku sehari-hari.

Ketakutan membuatku gagal berkembang. Saat ingin memulai sesuatu yang baru, aku selalu dihantui kegagalan. Otak langsung berpikir jauh tentang hal-hal buruk yang akan terjadi. Semisal otak akan berpikir dan berkata padaku, kalau kamu gagal tidak ada orang yang akan menyukaimu. Kalau tidak ada orang yang menyukaimu kamu akan kesepian. Kalau kamu kesepian berarti kamu gagal menjadi manusia, kamu tidak menarik, kamu buruk. Sehingga menjadikanku selalu menahan diri untuk tidak berkembang memaksimalkan potensi yang aku miliki.

Dalam hubungan, ketakutan juga menghambatku untuk memiliki cinta sejati. Selain itu, ketakutan juga menghambatku untuk tidak melukai pasanganku. Ciri khas yang muncul dalam hubungan akibat ketakutanku adalah aku selalu mencari 'back up plans'. Aku berhubungan dengan satu perempuan, aku tahu aku sayang dan mencintainya, namun karena ketakutanku akan ditinggal pergi oleh pasanganku menjadikanku senang mencari pelarian atau cadangan. Jahat sekali bukan? Tentu saja sangat jahat. Jahat kepada pasangan dan jahat kepada diri sendiri.

Selain itu ketakutan juga memberikanku kebiasaan buruk yang dapat mengganggu kesehatanku. Hampir 22 tahun aku tidak pernah merokok. Justru awal mula merokok baru di umur 22 akhir ketika aku sedang mengerjakan Tugas Akhir studiku yang menjadi syarat kelulusan. Aku masih ingat saat itu aku merokok diam-diam tanpa sepengetahuan orangtuaku. Maklum, satu keluarga besar tidak ada yang merokok setelah terakhir adalah Kakekku. Awal mula aku merokok, aku merasakan mual dan pusing yang teramat sangat. Namun aku tetap melanjutkan sampai akhirnya aku resisten terhadap racun yang ada di rokok.

Kebiasaan buruk yang kedua adalah aku senang sekali 'mukbang'. Makan banyak untuk menutupi ketakutanku. Mengalihkan kecemasanku atas hidup yang sedang aku jalani. Sangat mudah mengetahui aku sedang dalam kondisi baik dan tidak baik yaitu dengan cara melihat bentuk tubuhku. Jika aku dalam keadaan gendut, sudah dipastikan aku sedang menghadapi situasi sulit yang menjadikanku stress. Namun saat berat badanku turun ke berat badan ideal maka kesulitan atau tantangan itu dapat aku atasi dengan baik. Gilanya, saat aku stress, aku bisa menghabiskan 3 bungkus mie instan plus nasi dan telor untuk sekali makan.

Rasa takut telah melayukanku sebelum berkembang. Ditambah lagi waktu terus berjalan dan usia semakin bertambah. Beban pikiran semakin banyak dan tanggung jawab bertambah. Hal-hal itu menjadikanku semakin ketakutan bukan main. Menjadi sensitif dan menjadi manusia emosional. Sulit bercanda. Anti kritik. Banyak diam. Sulit mengutarakan pendapat. Semua begitu tercekat rasanya. Tak tahan dengan itu semua sampai di satu titik aku ingin menyerah. Namun belakangan aku mendapatkan sebuat kutipan menarik. 

“Kadang dibutuhkan lebih banyak keberanian untuk hidup daripada untuk mengakhiri hidup.” - Albert Camus.

Kutipan itu menguatkanku. Memberikanku sudut pandang baru. Hidup yang terus aku jalani menunjukkan bahwa aku berani. Dengan segala ketidakpastian. Dengan segala hitam-putih-abu-abunya hidup aku memilih untuk tetap melawan. Meskipun aku terseok-seok. Meskipun aku harus berdarah-darah. Tertatih-tatih. Aku akan tetap memilih untuk berani.

Saat ini aku membangun fondasi keberanian itu. Masih jatuh bangun. Namun aku akan tetap berjalan. Mengusahakannya untuk diriku sendiri. Mengusahakan agar aku tak menjadi benalu yang merepotkan orang-orang di sekitarku. Kali ini dengan kesadaran yang lebih baik tentunya. Telah aku pilih jalan ini. Jalan perlawanan, jalan kebangkitan. Semoga Allah meridai jalan dan pilihanku. Membantuku menjadi seorang hamba yang berani. Menjadi hamba yang kuat. Aamiin.

Yogyakarta, 6/7/2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Progressive Reading Project

October 27, 2025 Book Title: The Curse of the Mummy Author: Joyce Hannam Year of Publication:  This book tells us about Tariq’s diary book. He accompanied Mr. Carter to find the tomb of Tutankhamun in Egypt. Tutankhamun had been a king when he was nine years old. Tariq also told that in Egyptian culture the tomb is very important. Mr. Carter had been searching Tutankhamun’s tomb five year’s along. He only had one more year to find Tutankhamun’s tomb. So, he should hurry for it. He hired a little yellow bird to help them find a Tutankhamun's tomb. Tariq was not believe that a bird can help them to find the tomb. Comment: The title of this book is very interesting because it shows adventures vibes. November 2, 2025 Suddenly Karim, Tariq's friend who help Mr. Carter and Tariq in this mission, said he find a new clue. He find a step in the sand that them dig together. Karim and Tariq tell it to Mr. Carter Immediately. Then they are very happy. Mr. Carter give them an order to keep ...

Terlalu Jauh

Sulit sekali rasanya mendeskripsikan apa yang sedang aku rasakan. Kecenderungan untuk terus merasa sensitif, mudah marah, murung berhari-hari, sulit berkomunikasi, senang menyendiri, dan kesulitan untuk tidur. Perasaan yang semakin hari semakin menguasai diri. Sulit menghindar apalagi meninggalkan. Di mana letak kesalahan diri ini? Mencoba menelusuri setiap persimpangan. Mencoba segala hal dari kebaikan hingga keburukan. Nyatanya sulit sekali untuk menemukan jawaban. Seolah diri ini dibuat bingung dengan keadaan. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang salah dalam diri ini? Sudah cukup lelah diri ini untuk terus mencari. Keputusasaan seolah telah menanti, melambai, dan mulai menghampiri. Pagi ini, tanpa sengaja terlintas dalam pikiranku untuk menonton podcast Ust. Felix Siauw dengan Remond Chin. Podcast yang membahas mulai dari pentingnya nalar berpikir dalam beragama, jodoh, hingga membahas persoalan pemimpin. Menelusuri detik demi detik dan cukup banyak hal baru yang diri ini peroleh. ...

Kedukaan Atau Apa Pun Namanya Adalah Pembelajaran Yang Mahal

Coba berhenti sejenak. Menengok ke belakang. Kemudian tanyakan pada diri sendiri. Kapan terakhir kali merasa sedih, kecewa, galau, susah, gundah, atau pun duka? Momen apa yang telah terlalui sampai perasaan tidak nyaman tersebut muncul di permukaan? Cobalah jawab. Resapi setiap momen dari jawaban yang keluar. Kemudian hati akan tersadar bahwa kedukaan atau apa pun namanya adalah pembelajaran yang mahal. Pembelajaran dengan rasa sakit, biasa timbul dari kesalahan. Kesalahan diri sendiri. Inilah yang utama. Mungkin karena terlalu sombong. Mungkin kurangnya bersyukur. Mungkin merasa tidak ada yang dapat mengalahkanku. Mungkin merasa aku adalah pusat dunia dan tata surya. Kesalahan yang menjerumuskan. Ibarat berjalan di jalan berlumut dengan sandal swallow, terpeleset. Jatuh. Tertumbuk benda tumpul. Memar. Akhirnya sulit untuk berjalan beberapa waktu. Namun setelahnya, akan jauh lebih berhati-hati. Akan lebih bijak. Akan lebih mawas diri. Seorang teman lama berkata dalam sebuah cuitan. Unt...