Coba berhenti sejenak. Menengok ke belakang. Kemudian tanyakan pada diri sendiri. Kapan terakhir kali merasa sedih, kecewa, galau, susah, gundah, atau pun duka? Momen apa yang telah terlalui sampai perasaan tidak nyaman tersebut muncul di permukaan? Cobalah jawab. Resapi setiap momen dari jawaban yang keluar. Kemudian hati akan tersadar bahwa kedukaan atau apa pun namanya adalah pembelajaran yang mahal.
Pembelajaran dengan rasa sakit, biasa timbul dari kesalahan. Kesalahan diri sendiri. Inilah yang utama. Mungkin karena terlalu sombong. Mungkin kurangnya bersyukur. Mungkin merasa tidak ada yang dapat mengalahkanku. Mungkin merasa aku adalah pusat dunia dan tata surya. Kesalahan yang menjerumuskan. Ibarat berjalan di jalan berlumut dengan sandal swallow, terpeleset. Jatuh. Tertumbuk benda tumpul. Memar. Akhirnya sulit untuk berjalan beberapa waktu. Namun setelahnya, akan jauh lebih berhati-hati. Akan lebih bijak. Akan lebih mawas diri.
Seorang teman lama berkata dalam sebuah cuitan. Untuk setiap masa yang telah lewat. Hanya terdapat dua pilihan. Meratapi apa yang sudah berlalu. Atau menyambut yang mulai makin dekat. Meskipun bakal sulit. Meskipun bakal rumit. Meskipun bakal sakit. Itulah yang namanya konsekuensi. Konsekuensi karena berjalan di jalan berlumut menggunakan sandal swallow.
Hai! Kalian jiwa-jiwa yang masih lugu. Ada satu cara untuk tidak terjatuh saat berjalan di jalan berlumut. Bukan dengan kalian mencobanya sendiri. Tapi, lihatlah aku. Aku sudah terjatuh karena keangkuhanku. Kesombonganku. Ketidakbersyukuranku. Ke-egosentrisanku. Menjadikanku jatuh terpeleset. Memar. Sakit. Dan sulit untuk berjalan. Belajarlah dari kisahku. Biar kau tak perlu menjadi pesakitan. Biar kau menjadi orang bijak. Karena kedukaan atau apa pun namanya adalah pembelajaran yang mahal.
10/03/2026
Komentar
Posting Komentar