Tak terasa sudah hari Sabtu lagi. Seminggu berlalu dengan begitu cepat tanpa terasa. Kini, setiap pekan rasanya seperti sama semua. Cepat berlalu tanpa pernah sempat memberikan waktu untuk merenungi apa yang terjadi. Maka saat ini di setiap akhir pekan aku mencoba meluangkan waktu, menulis blogku, entah dengan apa akan aku tulis, untuk merenungi apa yang telah terjadi selama satu pekan ke belakang. Hal yang paling menonjol dari satu pekan ke belakangku kemarin adalah sebuah pertanyaan, kemanakah fokusku? Masih dalam misi pencarian makna kehidupan, aku sampai di titik di mana aku merasa selama ini fokus yang aku curahkan telah melenceng dari fitrahku sebagai manusia. Aku sibuk berlari mengelilingi lereng gunung tanpa pernah satu jengkal pun kaki ini aku langkahkan naik menuju puncak. Tidak akan pernah sampai dan hanya membuatku semakin lelah serta ketakutan. Rasa lelah dan frustasi yang aku rasakan menjadikanku salah dalam menyusun rencana yang seharunya aku lakukan. Ketika kita lelah d...
Terus dan terus aku memikirkan hal ini. Aku belum dapat ikhlas sepenuhnya atas hilangnya dirimu dari kehidupanku. Mungkin ini yang dinamakan proses menerima kedukaan dari sisi psikologis yang banyak dibicarakan akhir-akhir ini di banyak platform sosial media. Atau mungkin apa yang aku rasakan saat ini menyimpan misteri lain yang belum terjawab? Aku lebih senang jika semua yang aku rasakan ini adalah bentuk Tuhan menjagaku dari orang lain yang nantinya akan mempertemukan kita dalam versi diri yang lebih baik dan siap menjadi pasangan sehidup-semati. Sudah berjalan bulan kelima semenjak akhirnya kita melalui jalan yang berbeda. Aku masih ingat dengan jelas kesalahan berulang yang aku lakukan padamu. Aku tahu kamu mencintaiku dengan hebat. Terbukti dari caramu bersabar atas perangaiku yang kelewatan. Tetap tersenyum manis padaku meskipun ternyata hatimu menyimpan luka yang menganga. Aku masih mengingat betapa enaknya spageti dan katsu masakanmu kala itu. Dua makanan yang mungkin tak akan ...