Dulu, saat kecil, aku selalu diajarkan bahwa Tuhan Maha Pemarah. Ketika aku tidak berperilaku baik maka ungkapan Tuhan akan menghukumku di neraka nyaring terdengar. Saat aku malas untuk sholat, orangtuaku selalu menakut-nakutiku dengan kemarahan Tuhan. Aku mengenal agama dan Tuhanku dengan prinsip 'iya atau tidak sama sekali'. Sehingga seperti tidak memberikan kesempatan untuk sisi manusiawiku terlibat di dalamnya. Menjadikanku seseorang yang gagal paham atau salah paham terhadap Tuhanku. Kesalahpahamanku berlanjut hingga aku dewasa. Aku hidup dengan penuh tekanan dari identitas keagamaanku. Aku dibuat takut oleh persepsi salahku tentang Tuhanku. Ditambah dengan beban mental dan emosional yang cacat akibat kondisi keluargaku yang disfungsional. Kombinasi yang mematikan bagi seorang manusia untuk mengutuki kehidupan yang hanya sekali ini. Memalingkannya dari perasaan syukur dan berkecukupan, menjadi perasaan takut yang berlebihan. Keterpurukanku terus berlanjut sampai pada satu ...
Siang ini sehabis selesai melakukan ibadah salat zuhur, aku memutuskan mengisi kembali blogku dengan tulisanku. Sudah sepuluh hari lebih semenjak terakhir kali aku menuliskan isi kepalaku. Hal terakhir yang aku tulis adalah tentang bentuk-bentuk ketakutanku yang selalu menghantui. Ketakutan yang menjadikan diriku selalu melihat dunia dengan kacamata kejahatan. Dunia adalah tempat paling tidak aman bagiku. Padahal aku hidup dan tinggal di dalamnya. Sebuah paradoks. Kali ini, tidak ada tema khusus yang ingin aku angkat. Sekadar iseng-iseng saja sekaligus pemanasan sebelum aku mencoba menulis esai Beasiswa LPDP. Rasanya masih berat untuk memulai menulis esai. Jangan-jangan dengan senyap 'ketakutan' telah berhasil menyergapku. Membisikiku dengan sangat halus bahwa menulis esai adalah pekerjaan yang rumit. Tugas yang melelahkan. Perlu banyak mengursa pikiran. Sehingga menulis esai tidak cocok untuk dilakukan di akhir pekan yang santai ini. Aku sangat setuju. Rasanya ingin seharian t...