Beberapa waktu lalu aku baru menyadari bahwa tantangan terbesar dalam hidupku adalah ketakutan. Entah sudah sejak kapan rasa ini bersemanyam dalam diriku namun yang pasti perasaan ini berhasil menumbangkanku. Tidak ada tanda-tanda pasti bahwa aku terjangkiti penyakit ini. Ketakutan bisa mencengkeramku tanpa pernah aku sadari. Hanya saja efek yang ditimbulkan begitu jelas terlihat dalam kehidupanku sehari-hari. Ketakutan membuatku gagal berkembang. Saat ingin memulai sesuatu yang baru, aku selalu dihantui kegagalan. Otak langsung berpikir jauh tentang hal-hal buruk yang akan terjadi. Semisal otak akan berpikir dan berkata padaku, kalau kamu gagal tidak ada orang yang akan menyukaimu. Kalau tidak ada orang yang menyukaimu kamu akan kesepian. Kalau kamu kesepian berarti kamu gagal menjadi manusia, kamu tidak menarik, kamu buruk. Sehingga menjadikanku selalu menahan diri untuk tidak berkembang memaksimalkan potensi yang aku miliki. Dalam hubungan, ketakutan juga menghambatku untuk memiliki...
Hubungan terakhirku adalah sebuah pembelajaran paling berharga tentang mencintai. Dalam bukunya, Fahrudin Faiz, seorang Doktor Filsafat di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, berkata, "Belajarlah mencintai dengan tulus meskipun itu cinta duniawi. Jika kamu berhasil maka kamu akan bahagia. Seandainya kamu gagal maka kamu akan mengambil hikmahnya." Salah satu kalimat yang menjadi teman refleksiku setelah kehilangan terbesarku. Dari kegagalan cinta ke sekian kalinya itu, aku merasa bukan cintanya yang salah namun aku yang keliru. Mencintai adalah memberi. Memprioritaskan yang dicintai dan memastikan hidup sang kekasih selalu tercukupi. Tercukupi secara fisik maupun emosi. Sayangnya yang aku lakukan adalah berkebalikan. Aku selalu merasa kurang. Aku selalu menuntut pasangan. Seringnya aku mengabaikan perasaan pasanganku. Maunya hanya aku yang dimengerti. Berawal dari itu, terhitung sudah tiga kali aku pergi ke psikolog untuk berkonsultasi tentang diriku. Pertama, aku mendapati diriku ...