Hubungan terakhirku adalah sebuah pembelajaran paling berharga tentang mencintai. Dalam bukunya, Fahrudin Faiz, seorang Doktor Filsafat di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, berkata, "Belajarlah mencintai dengan tulus meskipun itu cinta duniawi. Jika kamu berhasil maka kamu akan bahagia. Seandainya kamu gagal maka kamu akan mengambil hikmahnya." Salah satu kalimat yang menjadi teman refleksiku setelah kehilangan terbesarku. Dari kegagalan cinta ke sekian kalinya itu, aku merasa bukan cintanya yang salah namun aku yang keliru. Mencintai adalah memberi. Memprioritaskan yang dicintai dan memastikan hidup sang kekasih selalu tercukupi. Tercukupi secara fisik maupun emosi. Sayangnya yang aku lakukan adalah berkebalikan. Aku selalu merasa kurang. Aku selalu menuntut pasangan. Seringnya aku mengabaikan perasaan pasanganku. Maunya hanya aku yang dimengerti. Berawal dari itu, terhitung sudah tiga kali aku pergi ke psikolog untuk berkonsultasi tentang diriku. Pertama, aku mendapati diriku ...
Coba tanyakan kembali pada diri sendiri, apakah pernah kalian melihat seseorang yang di siang hari bisa tertawa lepas namun saat malam hari menangis sejadi-jadinya? Atau pernahkah kalian melihat orang yang begitu dermawan, begitu bermurah hati membagikan apa yang dia punya. Bukannya makin berkurang hartanya justru malah semakin bertambah? Terlihat aneh. Namun sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari kita. Dunia paradoks. Apa yang kita tuju justru berbalik menjauh dari kita. Apa yang kita beri justru memberi lebih banyak pada kita. Apa yang kita tangisi justru menyelamatkan kita. Dunia yang dipenuhi sesuatu yang saling berlawanan. Kaki di kepala, kepala di kaki. Perjalanan keruntuhan dan kebangkitan rohaniah, jika meminjam kata dari Brene Brown, penulis buku The Gifts of Immperfection. Perjalanan ini yang menuntunku untuk melihat semua itu di depan mata. Apa yang kita perjuangkan mati-matian justru tidak pernah ada nilainya. Karena nilai hanyalah sebuah 'kesepakatan' dari s...