Coba tanyakan kembali pada diri sendiri, apakah pernah kalian melihat seseorang yang di siang hari bisa tertawa lepas namun saat malam hari menangis sejadi-jadinya? Atau pernahkah kalian melihat orang yang begitu dermawan, begitu bermurah hati membagikan apa yang dia punya. Bukannya makin berkurang hartanya justru malah semakin bertambah? Terlihat aneh. Namun sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari kita. Dunia paradoks. Apa yang kita tuju justru berbalik menjauh dari kita. Apa yang kita beri justru memberi lebih banyak pada kita. Apa yang kita tangisi justru menyelamatkan kita. Dunia yang dipenuhi sesuatu yang saling berlawanan. Kaki di kepala, kepala di kaki. Perjalanan keruntuhan dan kebangkitan rohaniah, jika meminjam kata dari Brene Brown, penulis buku The Gifts of Immperfection. Perjalanan ini yang menuntunku untuk melihat semua itu di depan mata. Apa yang kita perjuangkan mati-matian justru tidak pernah ada nilainya. Karena nilai hanyalah sebuah 'kesepakatan' dari s...
Coba berhenti sejenak. Menengok ke belakang. Kemudian tanyakan pada diri sendiri. Kapan terakhir kali merasa sedih, kecewa, galau, susah, gundah, atau pun duka? Momen apa yang telah terlalui sampai perasaan tidak nyaman tersebut muncul di permukaan? Cobalah jawab. Resapi setiap momen dari jawaban yang keluar. Kemudian hati akan tersadar bahwa kedukaan atau apa pun namanya adalah pembelajaran yang mahal. Pembelajaran dengan rasa sakit, biasa timbul dari kesalahan. Kesalahan diri sendiri. Inilah yang utama. Mungkin karena terlalu sombong. Mungkin kurangnya bersyukur. Mungkin merasa tidak ada yang dapat mengalahkanku. Mungkin merasa aku adalah pusat dunia dan tata surya. Kesalahan yang menjerumuskan. Ibarat berjalan di jalan berlumut dengan sandal swallow, terpeleset. Jatuh. Tertumbuk benda tumpul. Memar. Akhirnya sulit untuk berjalan beberapa waktu. Namun setelahnya, akan jauh lebih berhati-hati. Akan lebih bijak. Akan lebih mawas diri. Seorang teman lama berkata dalam sebuah cuitan. Unt...