Langsung ke konten utama

Postingan

Masihkah Kita Dapat Kembali?

Terus dan terus aku memikirkan hal ini. Aku belum dapat ikhlas sepenuhnya atas hilangnya dirimu dari kehidupanku. Mungkin ini yang dinamakan proses menerima kedukaan dari sisi psikologis yang banyak dibicarakan akhir-akhir ini di banyak platform sosial media. Atau mungkin apa yang aku rasakan saat ini menyimpan misteri lain yang belum terjawab? Aku lebih senang jika semua yang aku rasakan ini adalah bentuk Tuhan menjagaku dari orang lain yang nantinya akan mempertemukan kita dalam versi diri yang lebih baik dan siap menjadi pasangan sehidup-semati. Sudah berjalan bulan kelima semenjak akhirnya kita melalui jalan yang berbeda. Aku masih ingat dengan jelas kesalahan berulang yang aku lakukan padamu. Aku tahu kamu mencintaiku dengan hebat. Terbukti dari caramu bersabar atas perangaiku yang kelewatan. Tetap tersenyum manis padaku meskipun ternyata hatimu menyimpan luka yang menganga. Aku masih mengingat betapa enaknya spageti dan katsu masakanmu kala itu. Dua makanan yang mungkin tak akan ...
Postingan terbaru

Bahasa Cinta Tuhan

Dulu, saat kecil, aku selalu diajarkan bahwa Tuhan Maha Pemarah. Ketika aku tidak berperilaku baik maka ungkapan Tuhan akan menghukumku di neraka nyaring terdengar. Saat aku malas untuk sholat, orangtuaku selalu menakut-nakutiku dengan kemarahan Tuhan. Aku mengenal agama dan Tuhanku dengan prinsip 'iya atau tidak sama sekali'. Sehingga seperti tidak memberikan kesempatan untuk sisi manusiawiku terlibat di dalamnya. Menjadikanku seseorang yang gagal paham atau salah paham terhadap Tuhanku. Kesalahpahamanku berlanjut hingga aku dewasa. Aku hidup dengan penuh tekanan dari identitas keagamaanku. Aku dibuat takut oleh persepsi salahku tentang Tuhanku. Ditambah dengan beban mental dan emosional yang cacat akibat kondisi keluargaku yang disfungsional. Kombinasi yang mematikan bagi seorang manusia untuk mengutuki kehidupan yang hanya sekali ini. Memalingkannya dari perasaan syukur dan berkecukupan, menjadi perasaan takut yang berlebihan. Keterpurukanku terus berlanjut sampai pada satu ...

Hal-hal yang Ada di Kepala Saat Ini

Siang ini sehabis selesai melakukan ibadah salat zuhur, aku memutuskan mengisi kembali blogku dengan tulisanku. Sudah sepuluh hari lebih semenjak terakhir kali aku menuliskan isi kepalaku. Hal terakhir yang aku tulis adalah tentang bentuk-bentuk ketakutanku yang selalu menghantui. Ketakutan yang menjadikan diriku selalu melihat dunia dengan kacamata kejahatan. Dunia adalah tempat paling tidak aman bagiku. Padahal aku hidup dan tinggal di dalamnya. Sebuah paradoks. Kali ini, tidak ada tema khusus yang ingin aku angkat. Sekadar iseng-iseng saja sekaligus pemanasan sebelum aku mencoba menulis esai Beasiswa LPDP. Rasanya masih berat untuk memulai menulis esai. Jangan-jangan dengan senyap 'ketakutan' telah berhasil menyergapku. Membisikiku dengan sangat halus bahwa menulis esai adalah pekerjaan yang rumit. Tugas yang melelahkan. Perlu banyak mengursa pikiran. Sehingga menulis esai tidak cocok untuk dilakukan di akhir pekan yang santai ini. Aku sangat setuju. Rasanya ingin seharian t...

Takut

Beberapa waktu lalu aku baru menyadari bahwa tantangan terbesar dalam hidupku adalah ketakutan. Entah sudah sejak kapan rasa ini bersemanyam dalam diriku namun yang pasti perasaan ini berhasil menumbangkanku. Tidak ada tanda-tanda pasti bahwa aku terjangkiti penyakit ini. Ketakutan bisa mencengkeramku tanpa pernah aku sadari. Hanya saja efek yang ditimbulkan begitu jelas terlihat dalam kehidupanku sehari-hari. Ketakutan membuatku gagal berkembang. Saat ingin memulai sesuatu yang baru, aku selalu dihantui kegagalan. Otak langsung berpikir jauh tentang hal-hal buruk yang akan terjadi. Semisal otak akan berpikir dan berkata padaku, kalau kamu gagal tidak ada orang yang akan menyukaimu. Kalau tidak ada orang yang menyukaimu kamu akan kesepian. Kalau kamu kesepian berarti kamu gagal menjadi manusia, kamu tidak menarik, kamu buruk. Sehingga menjadikanku selalu menahan diri untuk tidak berkembang memaksimalkan potensi yang aku miliki. Dalam hubungan, ketakutan juga menghambatku untuk memiliki...

Aku Bukan Tak Mencintaimu, Aku Hanya Bodoh

Hubungan terakhirku adalah sebuah pembelajaran paling berharga tentang mencintai. Dalam bukunya, Fahrudin Faiz, seorang Doktor Filsafat di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, berkata, "Belajarlah mencintai dengan tulus meskipun itu cinta duniawi. Jika kamu berhasil maka kamu akan bahagia. Seandainya kamu gagal maka kamu akan mengambil hikmahnya." Salah satu kalimat yang menjadi teman refleksiku setelah kehilangan terbesarku. Dari kegagalan cinta ke sekian kalinya itu, aku merasa bukan cintanya yang salah namun aku yang keliru. Mencintai adalah memberi. Memprioritaskan yang dicintai dan memastikan hidup sang kekasih selalu tercukupi. Tercukupi secara fisik maupun emosi. Sayangnya yang aku lakukan adalah berkebalikan. Aku selalu merasa kurang. Aku selalu menuntut pasangan. Seringnya aku mengabaikan perasaan pasanganku. Maunya hanya aku yang dimengerti. Berawal dari itu, terhitung sudah tiga kali aku pergi ke psikolog untuk berkonsultasi tentang diriku. Pertama, aku mendapati diriku ...

Dunia Paradoks

Coba tanyakan kembali pada diri sendiri, apakah pernah kalian melihat seseorang yang di siang hari bisa tertawa lepas namun saat malam hari menangis sejadi-jadinya? Atau pernahkah kalian melihat orang yang begitu dermawan, begitu bermurah hati membagikan apa yang dia punya. Bukannya makin berkurang hartanya justru malah semakin bertambah? Terlihat aneh. Namun sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari kita. Dunia paradoks. Apa yang kita tuju justru berbalik menjauh dari kita. Apa yang kita beri justru memberi lebih banyak pada kita. Apa yang kita tangisi justru menyelamatkan kita. Dunia yang dipenuhi sesuatu yang saling berlawanan. Kaki di kepala, kepala di kaki. Perjalanan keruntuhan dan kebangkitan rohaniah, jika meminjam kata dari Brene Brown, penulis buku The Gifts of Immperfection. Perjalanan ini yang menuntunku untuk melihat semua itu di depan mata. Apa yang kita perjuangkan mati-matian justru tidak pernah ada nilainya. Karena nilai hanyalah sebuah 'kesepakatan' dari s...

Kedukaan Atau Apa Pun Namanya Adalah Pembelajaran Yang Mahal

Coba berhenti sejenak. Menengok ke belakang. Kemudian tanyakan pada diri sendiri. Kapan terakhir kali merasa sedih, kecewa, galau, susah, gundah, atau pun duka? Momen apa yang telah terlalui sampai perasaan tidak nyaman tersebut muncul di permukaan? Cobalah jawab. Resapi setiap momen dari jawaban yang keluar. Kemudian hati akan tersadar bahwa kedukaan atau apa pun namanya adalah pembelajaran yang mahal. Pembelajaran dengan rasa sakit, biasa timbul dari kesalahan. Kesalahan diri sendiri. Inilah yang utama. Mungkin karena terlalu sombong. Mungkin kurangnya bersyukur. Mungkin merasa tidak ada yang dapat mengalahkanku. Mungkin merasa aku adalah pusat dunia dan tata surya. Kesalahan yang menjerumuskan. Ibarat berjalan di jalan berlumut dengan sandal swallow, terpeleset. Jatuh. Tertumbuk benda tumpul. Memar. Akhirnya sulit untuk berjalan beberapa waktu. Namun setelahnya, akan jauh lebih berhati-hati. Akan lebih bijak. Akan lebih mawas diri. Seorang teman lama berkata dalam sebuah cuitan. Unt...