Langsung ke konten utama

Postingan

Belajar Mendengarkan

Refleksi minggu ini cukup spesial karena aku mendapatkannya dari seseorang yang aku sayangi dan cintai. Meskipun sekarang aku dipaksa menerima fakta bahwa dia tidak lagi dalam dekapanku. Sejujurnya aku masih sayang dia. Maaf kalau aku menyebalkan. Aku masih belum benar-benar sembuh dari efek buruk traumaku. Maaf ya sayangku. Oke, jadi begini. Aku merasakan sesuatu yang baru aku sadari sejak aku bangun tidur pagi ini. Selama ini aku benar-benar gak pernah menyadari hal ini karena berjalan otomatis. Pola ini berulang bukan hanya kepada mantan kekasihku melainkan juga kepada orang lain. Apa lagi saat aku di posisi salah. Jika sudah seperti itu, tanpa aku sadari pola ini langsung menguasaiku dengan cepat. Momen aku menyadari hal ini cukup unik sebenarnya. Semalam aku berbicara via chat dengan dia mantan kekasihku yang masih aku sayangi. Argumen demi argumen saling bergantian kami berikan. Sampai di titik dia membalas dengan pesan-pesan singkat. "Ya" "Sepakat" "Good...
Postingan terbaru

Aku Belum Selesai

Kembali lagi dengan refleksi mingguan di blog kesayanganku. Aku lanjutkan lagi cerita perjalananku kembali kepada diriku sendiri. Dengan semakin hiruk-pikuknya suasana dunia yang fana ini, tak menyurutkanku terus berusaha mengenali diriku sendiri. Karena seperti kata Hegel, semua itu berubah, tidak ada yang tetap, begitu pun aku yang selalu berubah dari hari ke hari. Tinggal ke mana arah perubahan itu, ke arah kebaikan atau keburukan? Aku awali ceritaku pagi tadi jam 10 pagi, saat aku selesai melakukan sholat dhuha. Aku duduk termenung setelah salam kedua. Sesaat banyak pikiran mulai menyerangku dari berbagai arah. Aku terima semua itu dengan tangan terbuka. Aku telah belajar, apapun yang datang jangan kamu tolak. Terima saja dulu. Meskipun ada perasaan yang tidak nyaman membersamai pikiran yang menyerangku tadi, tetapi aku tetap menerimanya. Aku mulai memproses satu per satu pikiran-pikiran yang datang. Sembari mengadahkan tangan, ketakutan akibat pikiran yang menyerangku aku lawan de...

Dariku 34 Tahun ke Diriku 29 Tahun

Hi, apa kabar? Sebelumnya aku mau ngucapin selamat atas gelar barunya, ya. Sekarang namamu menjadi Muhammad Imam Muttaqiin, S.Tr.T., M.Eng. Perjuangan yang luar biasa. Kapan rencanamu melanjutkan pendidikan doktoral? Hahaha gak papa pelan-pelan aja. Gak semua harus serba sat-set. Nyatanya dengan kamu melangkah pelan semua tetap akan sampai juga. Berkat kegigihan yang diiringi rahmat Allah kamu bisa melalui semuanya. Aku ingin mengucapkan beribu terima kasih untukkmu, diriku di usia 29 tahun. Terima kasih karena setelah patah hatimu, kamu tidak memilih menyerah. Keputusanmu memilih mengenal diri lebih dalam lagi adalah keputusan terbaik di usiamu saat itu. Aku sungguh bangga padamu. Berangkat dari hal itu, kini apa yang dulu terasa berat bagimu di awal, sudah menjadi sebuah kebiasaan yang ringan. Apakah kamu masih ingat betapa sulitnya dirimu saat memulai merutinkan sholat tahajjud? Bagaimana dengan puasa daudmu itu? Sholat dhuha, sedekah subuh, sholat sunnah rawatib, membaca al-qur...

Homeless

Refleksi minggu ini aku sedang menyadari sesuatu yang selama ini rasanya tidak mungkin terjadi padaku. Entah pikiran ini muncul dari mana, aku juga tidak tahu. Tetiba saja aku mendapatkannya. Sebuah pikiran yang setelah aku renungkan dengan dalam ada benarnya juga. Pikiran yang muncul disebabkan oleh kerinduanku pada seseorang. Dari kerinduan itu aku mencoba memahami diriku sendiri. Apa yang menyebabkan rasa rindu, cinta, sayang, dan kagum pada seseorang itu tidak luntur dari diriku meskipun kami sudah tidak bersama lagi. Aku sampai pada kesimpulan aku adalah seorang homeless sejak kecil. Ya, aku homeless.  Aku tidak memiliki rumah.  Rumah di sini bukanlah dalam artian rumah secara fisik bangunan. Walaupun secara fisik bangunan juga, keluargaku tidak memilikinya. Karena selama ini aku, Ibu dan Adikku menempati rumah warisan yang telah dibeli oleh kakak dari Ibuku. Singkatnya kami numpang di rumah orang. Lebih dari itu, selama ini aku menggelandang . Pindah dari rumah ke rumah ...

Socrates-Questions toward Popularity

Alasan Ingin Dipilih Kapan pertama kali aku mulai merasa perlu diakui secara sosial — peristiwa atau momen apa yang memicunya? - Pertama kali saat aku merasa perlu diakui secara sosial adalah saat aku duduk di bangku SMP. Saat itu kehidupan sosialku berubah signifikan. Aku bertemu dengan banyak teman baru dari latar belakang yang berbeda-beda. Di sana aku belajar pola struktur sosial baru di mana yang kaya, tampan, cantik, pintar, dan menarik adalah mereka yang akan mudah diterima oleh lingkungan sosial. Hal ini memang cukup berbeda saat aku masih di tingkat SD. Di tingkat SD lingkungan sosial masih begitu polos. Masih benar-benar pure hubungan pertemanan anak kecil tanpa bumbu-bumbu sosial lainnya. Sepertinya memang berawal dari bangku SMP ini secara tidak sadar aku menanamkan pemahaman yang keliru akan nilai diriku. Kekeliruan ini terus berlanjut hingga aku di titik sekarang yang hampir kepala tiga. Membuatku merasa bahwa aku tidak pernah cukup berharga untuk menjadi pilihan bagi ses...

Kemanakah Fokusku?

Tak terasa sudah hari Sabtu lagi. Seminggu berlalu dengan begitu cepat tanpa terasa. Kini, setiap pekan rasanya seperti sama semua. Cepat berlalu tanpa pernah sempat memberikan waktu untuk merenungi apa yang terjadi. Maka saat ini di setiap akhir pekan aku mencoba meluangkan waktu, menulis blogku, entah dengan apa akan aku tulis, untuk merenungi apa yang telah terjadi selama satu pekan ke belakang. Hal yang paling menonjol dari satu pekan ke belakangku kemarin adalah sebuah pertanyaan, kemanakah fokusku? Masih dalam misi pencarian makna kehidupan, aku sampai di titik di mana aku merasa selama ini fokus yang aku curahkan telah melenceng dari fitrahku sebagai manusia. Aku sibuk berlari mengelilingi lereng gunung tanpa pernah satu jengkal pun kaki ini aku langkahkan naik menuju puncak. Tidak akan pernah sampai dan hanya membuatku semakin lelah serta ketakutan. Rasa lelah dan frustasi yang aku rasakan menjadikanku salah dalam menyusun rencana yang seharunya aku lakukan. Ketika kita lelah d...

Masihkah Kita Dapat Kembali?

Terus dan terus aku memikirkan hal ini. Aku belum dapat ikhlas sepenuhnya atas hilangnya dirimu dari kehidupanku. Mungkin ini yang dinamakan proses menerima kedukaan dari sisi psikologis yang banyak dibicarakan akhir-akhir ini di banyak platform sosial media. Atau mungkin apa yang aku rasakan saat ini menyimpan misteri lain yang belum terjawab? Aku lebih senang jika semua yang aku rasakan ini adalah bentuk Tuhan menjagaku dari orang lain yang nantinya akan mempertemukan kita dalam versi diri yang lebih baik dan siap menjadi pasangan sehidup-semati. Sudah berjalan bulan kelima semenjak akhirnya kita melalui jalan yang berbeda. Aku masih ingat dengan jelas kesalahan berulang yang aku lakukan padamu. Aku tahu kamu mencintaiku dengan hebat. Terbukti dari caramu bersabar atas perangaiku yang kelewatan. Tetap tersenyum manis padaku meskipun ternyata hatimu menyimpan luka yang menganga. Aku masih mengingat betapa enaknya spageti dan katsu masakanmu kala itu. Dua makanan yang mungkin tak akan ...