Langsung ke konten utama

Dunia Paradoks

Coba tanyakan kembali pada diri sendiri, apakah pernah kalian melihat seseorang yang di siang hari bisa tertawa lepas namun saat malam hari menangis sejadi-jadinya? Atau pernahkah kalian melihat orang yang begitu dermawan, begitu bermurah hati membagikan apa yang dia punya. Bukannya makin berkurang hartanya justru malah semakin bertambah? Terlihat aneh. Namun sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari kita.

Dunia paradoks. Apa yang kita tuju justru berbalik menjauh dari kita. Apa yang kita beri justru memberi lebih banyak pada kita. Apa yang kita tangisi justru menyelamatkan kita. Dunia yang dipenuhi sesuatu yang saling berlawanan. Kaki di kepala, kepala di kaki.

Perjalanan keruntuhan dan kebangkitan rohaniah, jika meminjam kata dari Brene Brown, penulis buku The Gifts of Immperfection. Perjalanan ini yang menuntunku untuk melihat semua itu di depan mata. Apa yang kita perjuangkan mati-matian justru tidak pernah ada nilainya. Karena nilai hanyalah sebuah 'kesepakatan' dari sekumpulan orang atau suatu kelompok.

Dunia paradoks. Dalam situasi sulit, justru kita diminta bersyukur. Saat kejatuhan eksistensial, justru kita diminta mencintai takdir kita, kata Nietzsche. Ketika kita rapuh dan butuh terhubung dengan orang lain, justru kita harus memulai dengan banyak mendengarkan. Kaki di kepala, kepala di kaki.

Di momen ini, saat aku mengambil cermin, kemudian berkaca, bukan lagi wajahku yang aku lihat. Di seberang sana, aku melihat sosok Sysiphus. Apa bedanya aku dan Sysiphus? Hampir tidak ada bedanya. Kita sama-sama memikul beban berat yang telah dipastikan tidak pernah ada kemenangan. Dan bukankah tidak ada kemenangan sejati di dunia ini?

Dunia paradoks. Puncak dari kebahagiaan adalah menangis. Sedangkan puncak dari kesedihan adalah tertawa. Orang yang terlihat begitu ceria sering kali menyimpan luka yang teramat dalam. Si mandiri, tumpuan dari banyak orang, justru sebenarnya yang paling butuh pundak untuk dia bersandar. Oh, kaki di kepala, kepala di kaki.

Perihal Sysiphus, akhirnya dia bisa tertawa. Dia telah menyadari kekalahannya. Bahkan dia sadar, sejak awal dia memang sudah kalah. Dia tertawa semakin kencang. Menerima kekalahannya dengan tertawa sekencang-kencangnya. Dia memberontak. Dia mencari kebebasan. Dia menerima kekalahannya dengan cara yang elegan.

Dunia paradoks. Dunia jahat padamu, lihatlah ke dalam dirimu. Orang-orang menjauhimu, lihatlah ke dalam dirimu. Harapanmu dipatahkan, lihatlah ke dalam dirimu. Kamu dikecewakan, lihatlah ke dalam dirimu. Tuhan tidak adil padamu, lihatlah ke dalam dirimu. Di sanalah jawabannya. Di sanalah semua rahasia tersimpan. Diri sendiri. Aneh? Memang. Kaki di kepala, kepala di kaki.

Belajarlah pada Sysiphus. Dia sang pemberani. Belajarlah pada seorang model, menjadi kucel dan kurang terawat karena memilih menjadi seorang ibu. Dia sang pemberani. Belajarlah pada seorang ayah yang mendorong gerobaknya, berjualan dari pagi hingga tenggelamnya matahari. Dia sang pemberani. Belajarlah dari anak kecil yang tetap tertawa lucu setelah dibentak orang tuanya. Dia sang pemberani. Lantas, sudahkah kamu menjadi seorang yang pemberani?

Kaki di kepala, kepala di kaki.

7/04/2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Progressive Reading Project

October 27, 2025 Book Title: The Curse of the Mummy Author: Joyce Hannam Year of Publication:  This book tells us about Tariq’s diary book. He accompanied Mr. Carter to find the tomb of Tutankhamun in Egypt. Tutankhamun had been a king when he was nine years old. Tariq also told that in Egyptian culture the tomb is very important. Mr. Carter had been searching Tutankhamun’s tomb five year’s along. He only had one more year to find Tutankhamun’s tomb. So, he should hurry for it. He hired a little yellow bird to help them find a Tutankhamun's tomb. Tariq was not believe that a bird can help them to find the tomb. Comment: The title of this book is very interesting because it shows adventures vibes. November 2, 2025 Suddenly Karim, Tariq's friend who help Mr. Carter and Tariq in this mission, said he find a new clue. He find a step in the sand that them dig together. Karim and Tariq tell it to Mr. Carter Immediately. Then they are very happy. Mr. Carter give them an order to keep ...

Terlalu Jauh

Sulit sekali rasanya mendeskripsikan apa yang sedang aku rasakan. Kecenderungan untuk terus merasa sensitif, mudah marah, murung berhari-hari, sulit berkomunikasi, senang menyendiri, dan kesulitan untuk tidur. Perasaan yang semakin hari semakin menguasai diri. Sulit menghindar apalagi meninggalkan. Di mana letak kesalahan diri ini? Mencoba menelusuri setiap persimpangan. Mencoba segala hal dari kebaikan hingga keburukan. Nyatanya sulit sekali untuk menemukan jawaban. Seolah diri ini dibuat bingung dengan keadaan. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang salah dalam diri ini? Sudah cukup lelah diri ini untuk terus mencari. Keputusasaan seolah telah menanti, melambai, dan mulai menghampiri. Pagi ini, tanpa sengaja terlintas dalam pikiranku untuk menonton podcast Ust. Felix Siauw dengan Remond Chin. Podcast yang membahas mulai dari pentingnya nalar berpikir dalam beragama, jodoh, hingga membahas persoalan pemimpin. Menelusuri detik demi detik dan cukup banyak hal baru yang diri ini peroleh. ...

Kedukaan Atau Apa Pun Namanya Adalah Pembelajaran Yang Mahal

Coba berhenti sejenak. Menengok ke belakang. Kemudian tanyakan pada diri sendiri. Kapan terakhir kali merasa sedih, kecewa, galau, susah, gundah, atau pun duka? Momen apa yang telah terlalui sampai perasaan tidak nyaman tersebut muncul di permukaan? Cobalah jawab. Resapi setiap momen dari jawaban yang keluar. Kemudian hati akan tersadar bahwa kedukaan atau apa pun namanya adalah pembelajaran yang mahal. Pembelajaran dengan rasa sakit, biasa timbul dari kesalahan. Kesalahan diri sendiri. Inilah yang utama. Mungkin karena terlalu sombong. Mungkin kurangnya bersyukur. Mungkin merasa tidak ada yang dapat mengalahkanku. Mungkin merasa aku adalah pusat dunia dan tata surya. Kesalahan yang menjerumuskan. Ibarat berjalan di jalan berlumut dengan sandal swallow, terpeleset. Jatuh. Tertumbuk benda tumpul. Memar. Akhirnya sulit untuk berjalan beberapa waktu. Namun setelahnya, akan jauh lebih berhati-hati. Akan lebih bijak. Akan lebih mawas diri. Seorang teman lama berkata dalam sebuah cuitan. Unt...