Detik demi detik berlalu. Menit demi menit terlewat. Jam demi jam terganti. Ia masih menanti dalam sepi. Seseorang yang akan memeluknya. Seperti Juliet memeluk Romeo. Seperti Laila memeluk Majnun. Atau akan seperti Dulcinea dari Tobosso yang tak akan mungkin memeluk Don Quijote dari La Mancha karena Dulcinea hanyalah tokoh khayalan. Tidak ada yang akan tahu, pun bagi Si penanti tak akan tahu. Karena selalu ada keraguan dalam dirinya. Selalu ada ketidakpercayadirian yang melanda. Yang akhirnya selalu memilih untuk kalah sebelum berperang.
Tiga belas Maret dua ribu tujuh belas. Malam itu bintang bersembunyi dibalik awan. Bulan pun sedikit tertutup tirainya. Hanya sedikit sinar yang berhasil lolos dari kawalan sang awan. Seorang pemuda duduk sendirian di sudut warung kopi.Walaupun tidak bisa juga dikatakan sendirian. Ada tujuh puluh pelanggan lain yang juga ada di tempat itu. Ada yang berdua, bertiga, berempat, bahkan bergerombol dengan pakaian yang sama, persis seperti anak TK sedang pesta kebun di belakang sekolah. Namun Ia hanya sendiri. Memilih sendiri dan akan tetap sendiri, untuk menanti.
“Aku menanti,” katanya.”Karena aku lelah untuk menjemput,” lanjutnya. Ia yang sekarang sendiri bukanlah Ia yang tak pernah berjuang. Tak terhitung sudah berapa banyak wanita yang menolaknya. Selalu dengan tiga alasan yang sama: kamu terlalu baik buat aku; aku baru gak mau pacaran; kita temenan aja ya. Selalu sama, tidak ada beda. Sampai Ia bosan untuk mendengarnya, membacanya, dan menebaknya.
Akhirnya Ia pun mati rasa kepada wanita. Pukul delapan malam. Warung kopi tempatnya bertapa sedang penuh-penuhnya. Ia masih asyik tenggelam dengan bukunya. Buku karangan Miguel Cervantes tahun seribu enam ratus enam puluh lima asal negeri matador Spanyol. Disampul tertulis judul berwarna merah ‘Don Quijote Dari La Mancha’. Buku yang disebut-sebut novel pertama di Eropa. Bercerita tentang seorang Hidalgo (sebutan untuk orang terpandang) yang terobsesi menjadi ksatria karena telah teracuni buku-buku cerita tentang ksatria. Ditemani Sancho Panza pelayannya yang juga tidak kalah gila dengannya, mereka melakukan perjalanan untuk berpetualang.
“Mas, saya boleh duduk di sini?” tanya seorang wanita kepadanya. Ia melirik sekilas dan tanpa berkata Ia hanya mengangguk. Wanita itu duduk dengan sedikit ragu. Terlintas dipikirannya bahwa pemuda didepannya adalah psikopat. Jika bukan karena tempat yang penuh dan harus menunggu temannya, Ia juga enggan untuk duduk bersebrangan dengan seorang psikopat.
“Lala lama banget sih,” gerutu wanita di seberang si psikopat yang membuyarkan konsentrasi bacanya. Sebenarnya Ia telah kehilangan konsentrasinya sejak awal wanita itu datang dan mohon izin untuk duduk di seberangnya. Menurutnya si wanita bukanlah wanita yang jelek tapi juga bukan wanita yang cantik. Tapi entah mengapa menurutnya si wanita memiliki nilainya tersendiri. Bukan dalam paras luarnya, melainkan paras dalamnya. Inner Beauty.
Tak tahan hanya menjadi pendengar gerutuan si wanita, Ia memutuskan untuk bertanya,”Mbaknya nungguin siapa?”. Si wanita kaget setengah mati, dipikirnya orang di depannya adalah psikopat bisu. Ternyata Ia salah, si psikopat bisa bicara. Agak ragu si wanita menjawab,”Baru nunggu temen, mas, janjinya sih jam delapan, tapi belum sampai juga”.
Si pemuda hanya menjawab singkat,”Oh”. Yang membuat si wanita semakin yakin bahwa pemuda di seberangnya adalah psikopat tulen. Setengah jam berlalu dan teman si wanita belum juga datang. Suasana hati makin bete, kalut, dongkol, marah, semua jadi satu. Tiap kali temannya ditanya ‘dimana?’ melalui pesan singkat, hanya jawaban ‘lagi otw’ yang si wanita dapat. Tak tahan dengan semua itu, si wanita akhirnya memutuskan untuk iseng-iseng coba ngajak ngobrol si psikopat.
“Sendirian aja, mas?” tanyanya berusaha melepaskan kedinginan mereka berdua seperti dinginnya sikap Korea Utara kepada Korea Selatan.
Si psikopat hanya mengangguk dan kini mulai mengangkat bukunya untukmenutupi wajahnya. Kini bukunya terangkat sempurna menutupi wajahnya.
Wajahnya berganti menjadi sampul buku yang sedang Ia baca dan seketika itu juga si wanita berkata,”Oh, bukunya Miguel Cervantes, pantas aja kok gak asing”.
Mendengar suara si wanita yang baru saja berkata tentang bukunya membuat si psikopat terperanjat. ”Kok dia bisa tahu,ya?” tanyanya dalam hati.
Sejurus kemudian tanpa Ia sadari Ia telah berkata,”Loh mbaknya tahu, toh?”.
Disinilah awal melelehnya kedingininan mereka seperti melelehnya es di kutub utara akibat efek rumah kaca.
“Suka baca juga mbak?”, tanyanya coba menyelidiki.
Entah mengapa baginya seorang wanita yang suka membaca seperti ratu yang anggun. Lazimnya seorang ratu, pasti bermahkotakan mahkota yang indah. Mahkota yang terhiasi dengan batu-batuan mulia yang indah tiada tara. Namun baginya, wanita yang gemar membaca lebih dari sekadar mengenakan mahkota dengan batu mulia. Lebih dari itu, Ia mengenakan mahkota ilmu pengetahuan dan wawasan. Bukan hanya kecantikan luar yang bertambah, namun kecantikan dari dalam yang memancar. Dan mereka pun tenggelam dalam obrolan seputar perbukuan.
Mulai dari karya Miguel Cervantes di Spanyol sampai karya Andi Makmur Makka yang mengangkat biografi B.J. Habibie di Parepare. Kemudian mereka terbang ke Perancis berjalan-jalan ke museum de’ Louvre untuk membantu Mr. Langdon memecahkan teka-teki cawan Yesus dalam bukunya Dan Brown berjudul ‘The Da Vinci Code’.Dan dengan mendadak banting stir membahas sejarah umat manusia ‘Homo Sapiens’ karya penulis asal Israel Yuval Noah Harari yang mengantarkannya meraih banyak penghargaan.
Waktu berlalu dan tanpa disadari hujan mulai turun. Bau tanah mulai tercium perlahan-lahan. Hawa dingin mulai mendominasi. Namun terdapat kehangatan diantara percakapan mereka berdua yang membawa tawa bagi si psikopat. Hatinya tenteram, senang, bahagia akhirnya ada seseorang yang mampu membawanya untuk menikmati sebuah obrolan. Ia merasa ingin kenal lebih dekat dengan si wanita. Ia menaruh rasa suka, tapi bukan jatuh cinta. Karena cinta dan mencintai adalah sebuah proses, begitu kiranya yang dikatakan Erich Formm dalam bukunya ‘Seni Mencintai’ yang pernah si psikopat baca saat masih duduk di semester dua tahun lalu.
Tiba-tiba hal yang tidak diharapkan pun terjadi. Hujan mulai ditemani angin yang kencang. Guntur menggelegar bergandengan dengan kilat yang menyambar. Warung kopi yang berkonsep semi terbuka mau tidak mau harus menerima banyak percikan air dari luar, yang lidah jawa biasa bilang ‘tampon’.
“Eh bentar,” si psikopat memotong percakapan,”Aku harus cabut charger HP ku dulu, kayaknya kena air hujan deh”. Saat hendak melangkah, ada sesuatu yang terasa berat menahan. Kehangatan menjalar di tangan si psikopat. Ia coba untuk memahami darimana datangnya kehangatan di tengah dinginnya udara itu. Akhirnya Ia menoleh untuk mengetahui sumber kehangatan yang diberikan pada tangannya. Ternyata sebuah tangan telah menahan langkahnya. Tangan yang halus dan lembut itu mencengkeram kuat tangannya. Si psikopat seperti tak percaya. Kehangatan di tangan kini mulai menjadi panas yang menjalar diseluruh tubuhnya. Jantungnya berdegup lebih cepat. Nafasnya sulit diatur walaupun sekuat tenaga Ia mencoba atur. Jika tidak cepat-cepat mungkin akan disusul dengan tetesan keringat dari dahinya yang kini sudah mulai menggantung seperti air di ujung jarum.
“Jangan lama-lama ya, mas,” ucap si wanita sambil mencoba mencari mata si psikopat.
”Aku takut petir,” ucap si wanita sungguh-sungguh.
“I-iya,” sambil mengangguk ragu.
”Cuma sebentar doang,” jawab si psikopat.
Genggaman si wanita pun terlepas. Kini sudah tidak ada lagi yang menahan. Tidak ada lagi yang menghadang. Tidak ada lagi yang membentengi kepergian si psikopat untuk mengamankan HP nya. Seiring dengan langkah kaki si psikopat yang semakin menjauhi si wanita datanglah perasaan gelisah.
Langkah pertama menhadirkan gelisah seperti gelisahnya Emmeth Kelly yang menangis panik, pontang-panting berlari membawa ember, berusaha sia-sia memadamkan api yang berkobar-kobar membakar sirkusnya. Itulah hari tersedih dalam dunia sirkus. Hari yang saat ini dikenal sebagai ‘The day the clown cried’.
Langkah kedua mengguncang jiwanya seperti terguncangnya seluruh bumi India atas tragedi penembakan Mohandas Karamchand Gandhi seorang politikus utama dan pemimpin spiritual dari Gerakan Kemerdekaan India pada Jumat sore 30 Januari 1948. Seseorang yang diakui bukan hanya oleh pendukung dan pengikutnya melainkan pula oleh mereka yang tidak begitu saja menyetujui perjuangannya dan oleh karenanya Ia dijuluki ‘Mahatma’ (Jiwa yang besar).
Langkah ketiga si psikopat jauh lebih berat. Bukan hanya gelisah, bukan hanya jiwanya yang terguncang. Namun seolah Ia sedang menghadapi maut. Seperti Socrates yang harus berhadapan dengan maut karena diharuskan untuk mengakhiri hidupnya oleh pengadilan Athena dengan meminum racun.
Langkah-langkah kaki berikutnya bukan tidak kurang kesulitan yang dihadapinya. Tapi Ia mencoba untuk menepis semua. Ia ingin segera mencapai tempat Ia menaruh Handphone dan langsung mencabut charger Handphone yang masih terpasang. Ia tidak ingin menghabiskan banyak waktu menjauh dari si wanita yangbaru saja Ia kenal. Ia tersadar, kini Ia mulai berharap banyak atas kehadiran si wanita.
Ia berharap semoga ini adalah saatnya untuk mendapatkan tempat berteduh di kala panas, tempat bernaung di kala hujan, tempatnya bersandar saat hari terasa berat, tempatnya menangis saat hati begitu pilu, tempatnya Ia memperoleh kehangatan saat kedinginan, sebuah pelukan. Tempatnya Ia kembali dari petualangan, pelayaran, perjalanan yang melelahkan, rumah. Ia berharap dan terus berharap akan segera menemukan rumah.
Tangannya menyentuh charger HP yang masih tertanam dalam lubang stopkontak ketika dengan cepat panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Aliran elektron dari arus listrik berpindah dengan cepat menuju tubuh, berjalan-jalan menyusuri tangan, berlayar di ujung kepala, berakhir di ujung kaki. Sangat disayangkan, elektron yang mengalir sedang bermuatan memberikan efek kejut yang merusak. Singkat cerita si psikopat sedang merasakan ‘hukuman mati’ tersetrum. Sulit baginya untuk melepaskan tangannya yang seolah-olah sudah terkunci tak bisa dilepas. Kini bukan HP-nya yang dicharger melainkan dirinya yang kelebihan muatan listrik.
Komentar
Posting Komentar