Langsung ke konten utama

Hal-hal yang Ada di Kepala Saat Ini

Siang ini sehabis selesai melakukan ibadah salat zuhur, aku memutuskan mengisi kembali blogku dengan tulisanku. Sudah sepuluh hari lebih semenjak terakhir kali aku menuliskan isi kepalaku. Hal terakhir yang aku tulis adalah tentang bentuk-bentuk ketakutanku yang selalu menghantui. Ketakutan yang menjadikan diriku selalu melihat dunia dengan kacamata kejahatan. Dunia adalah tempat paling tidak aman bagiku. Padahal aku hidup dan tinggal di dalamnya. Sebuah paradoks.

Kali ini, tidak ada tema khusus yang ingin aku angkat. Sekadar iseng-iseng saja sekaligus pemanasan sebelum aku mencoba menulis esai Beasiswa LPDP. Rasanya masih berat untuk memulai menulis esai. Jangan-jangan dengan senyap 'ketakutan' telah berhasil menyergapku. Membisikiku dengan sangat halus bahwa menulis esai adalah pekerjaan yang rumit. Tugas yang melelahkan. Perlu banyak mengursa pikiran. Sehingga menulis esai tidak cocok untuk dilakukan di akhir pekan yang santai ini.

Aku sangat setuju. Rasanya ingin seharian tiduran saja di atas kasur. Menggulirkan layar ponsel untuk melihat konten-konten receh. Membanjiri otak dengan dopamin yang banyak. Menjadikanku merasakan kesenangan sesaat yang membuat candu. Ingin terus menggulirkan layar sampai tanpa sadar waktu telah beranjak sore. Akhirnya aku merasa bahwa aku telah membuang-buang waktu dengan percuma. Tanpa ada hal 'produktif' yang aku lakukan. Aku mengutuki diriku. Aku akhirnya memilih membenci diriku.

Lingkaran setan yang selama ini terus aku rasakan. Kecanduan gawai ini semakin memprihatinkan hari demi hari. Ingin rasanya aku mengganti ponsel pintarku dengan ponsel jadul yang hanya bisa untuk telepon dan SMS. Namun, zaman sekarang mana ada yang hanya menggunakan ponsel untuk telepon dan SMS? Minimal sekali pasti membutuhkan ponsel yang mampu membuka aplikasi Whatsapp. Kalau sudah mampu membuka aplikasi Whatsapp, otomatis pasti banyak aplikasi bawaan lainnya yang juga terpasang di ponsel tersebut. Akhirnya sama saja bohong.

Pada dasarnya aku setuju, terutama untuk diriku sendiri, ponsel yang aku miliki ini sudah di tahap mengganggu. Terutama masalah mental. Produksi zat kimiawi di dalam otak yang tidak lagi seimbang menjadikan hormon-hormon yang ada di dalam tubuh juga ikut tidak seimbang. Ketidakseimbangan ini menjadikan hidup terlalu naik-turun begitu cepat tanpa pernah diri ini benar-benar memproses semuanya. Efeknya membuat diri sulit fokus. Susah berkonsentrasi. Muncul rasa takut beserta kekhawatiran. Menjadikan hidup tidak berjalan dengan sebagaimana 'hidup'.

Aku juga merasakan bahwa akhir-akhir ini anak-anak semakin kecanduan dengan ponsel. Selain karena terlalu dini orang tua memperkenalkan ponsel kepada mereka. Namun juga lingkungan yang kurang mendukung untuk tumbuh kembang anak sesuai usianya. Sebagai contoh, aku dulu masih berkesempatan bermain di sungai bersama teman-teman. Mencuri mangga, anggur, dan kelapa. Ya, itu sebuah kesalahan dan kenakalan tetapi aku mencoba menyoroti sisi petualangannya. Lain halnya dengan sekarang, anak-anak cenderung berdiam diri di dalam rumah dan sedikit sekali mencoba bermain bersama teman-temannya di luar rumah.

Kecanduan ponsel, seperti yang aku rasakan, semakin diperparah dengan sedikitnya anak belajar tentang mengelola masalah dengan baik. Jarang sekali anak terpapar pembelajaran mengenai arti sebuah proses, penderitaan, dan perjuangan. Anak sekarang cenderung dilindungi. Orang tua takut mengajari anaknya 'menderita' karena sebenarnya muncul dari rasa kasih sayang. Orang tua merasa penderitaan yang mereka alami jangan sampai anak mereka terima. Namun ini sebenarnya hal yang keliru ketika orang tua tidak pernah mengajari anaknya memiliki masalah, merasakan masalah, mencari solusi dari masalah, belajar dari masalah, dan melalui masalah.

Ya, pada dasarnya apa yang aku tulis di atas adalah apa yang terjadi padaku. Aku gagal untuk bisa menghadapi masalah dengan baik karena kurangnya informasi atau pembelajaran yang aku terima. Kemudian aku berkenalan dengan ponsel di saat kematangan diriku belum sepenuhnya utuh. Menjadikan aku candu terhadap ponsel. Terjebak di dalamnya dengan konten receh dan unggahan-unggahan orang lain yang 'wah' sehingga membuatku cemas, khawatir, dan selalu merasa tidak puas.

Sebuah kegagalan yang harus aku bayar mahal. Aku banyak mengalami kehilangan. Kehilangan waktu. Kehilangan kesempatan. Kehilangan potensi. Kehilangan orang yang aku cintai dan sayangi. Kehilangan-kehilangan itu adalah hal yang harus aku bayar. Pembelajaran yang aku terima tidak pernah gratis. Seringnya aku belajar dengan kehilangan dan luka. Menjadikanku sempat hampir berputus asa atas kehidupanku.

Namun, Tuhan Yang Maha Baik masih berkenan menolongku. Dan akan terus menolongku. Menjagaku dengan penjagaan-Nya. Merahmatiku dengan kasih sayang-Nya yang begitu luas. Perlahan aku belajar. Perlahan aku bangkit. Meskipun tidak sempurna. Dan aku tahu aku tidak akan pernah sempurna. Namun dari setiap kesalahan yang aku lakukan kali ini, aku sadar kesalahan itu adalah bagian dari perjalananku mengenal-Nya. Perjalanan untuk menjadi hamba-Nya seutuhnya. Dan Ia Maha Mengetahui setiap perjalanan dan hati hamba-Nya.

Yogyakarta, 18/07/2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Progressive Reading Project

October 27, 2025 Book Title: The Curse of the Mummy Author: Joyce Hannam Year of Publication:  This book tells us about Tariq’s diary book. He accompanied Mr. Carter to find the tomb of Tutankhamun in Egypt. Tutankhamun had been a king when he was nine years old. Tariq also told that in Egyptian culture the tomb is very important. Mr. Carter had been searching Tutankhamun’s tomb five year’s along. He only had one more year to find Tutankhamun’s tomb. So, he should hurry for it. He hired a little yellow bird to help them find a Tutankhamun's tomb. Tariq was not believe that a bird can help them to find the tomb. Comment: The title of this book is very interesting because it shows adventures vibes. November 2, 2025 Suddenly Karim, Tariq's friend who help Mr. Carter and Tariq in this mission, said he find a new clue. He find a step in the sand that them dig together. Karim and Tariq tell it to Mr. Carter Immediately. Then they are very happy. Mr. Carter give them an order to keep ...

Terlalu Jauh

Sulit sekali rasanya mendeskripsikan apa yang sedang aku rasakan. Kecenderungan untuk terus merasa sensitif, mudah marah, murung berhari-hari, sulit berkomunikasi, senang menyendiri, dan kesulitan untuk tidur. Perasaan yang semakin hari semakin menguasai diri. Sulit menghindar apalagi meninggalkan. Di mana letak kesalahan diri ini? Mencoba menelusuri setiap persimpangan. Mencoba segala hal dari kebaikan hingga keburukan. Nyatanya sulit sekali untuk menemukan jawaban. Seolah diri ini dibuat bingung dengan keadaan. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang salah dalam diri ini? Sudah cukup lelah diri ini untuk terus mencari. Keputusasaan seolah telah menanti, melambai, dan mulai menghampiri. Pagi ini, tanpa sengaja terlintas dalam pikiranku untuk menonton podcast Ust. Felix Siauw dengan Remond Chin. Podcast yang membahas mulai dari pentingnya nalar berpikir dalam beragama, jodoh, hingga membahas persoalan pemimpin. Menelusuri detik demi detik dan cukup banyak hal baru yang diri ini peroleh. ...

Kedukaan Atau Apa Pun Namanya Adalah Pembelajaran Yang Mahal

Coba berhenti sejenak. Menengok ke belakang. Kemudian tanyakan pada diri sendiri. Kapan terakhir kali merasa sedih, kecewa, galau, susah, gundah, atau pun duka? Momen apa yang telah terlalui sampai perasaan tidak nyaman tersebut muncul di permukaan? Cobalah jawab. Resapi setiap momen dari jawaban yang keluar. Kemudian hati akan tersadar bahwa kedukaan atau apa pun namanya adalah pembelajaran yang mahal. Pembelajaran dengan rasa sakit, biasa timbul dari kesalahan. Kesalahan diri sendiri. Inilah yang utama. Mungkin karena terlalu sombong. Mungkin kurangnya bersyukur. Mungkin merasa tidak ada yang dapat mengalahkanku. Mungkin merasa aku adalah pusat dunia dan tata surya. Kesalahan yang menjerumuskan. Ibarat berjalan di jalan berlumut dengan sandal swallow, terpeleset. Jatuh. Tertumbuk benda tumpul. Memar. Akhirnya sulit untuk berjalan beberapa waktu. Namun setelahnya, akan jauh lebih berhati-hati. Akan lebih bijak. Akan lebih mawas diri. Seorang teman lama berkata dalam sebuah cuitan. Unt...