Dulu, saat kecil, aku selalu diajarkan bahwa Tuhan Maha Pemarah. Ketika aku tidak berperilaku baik maka ungkapan Tuhan akan menghukumku di neraka nyaring terdengar. Saat aku malas untuk sholat, orangtuaku selalu menakut-nakutiku dengan kemarahan Tuhan. Aku mengenal agama dan Tuhanku dengan prinsip 'iya atau tidak sama sekali'. Sehingga seperti tidak memberikan kesempatan untuk sisi manusiawiku terlibat di dalamnya. Menjadikanku seseorang yang gagal paham atau salah paham terhadap Tuhanku.
Kesalahpahamanku berlanjut hingga aku dewasa. Aku hidup dengan penuh tekanan dari identitas keagamaanku. Aku dibuat takut oleh persepsi salahku tentang Tuhanku. Ditambah dengan beban mental dan emosional yang cacat akibat kondisi keluargaku yang disfungsional. Kombinasi yang mematikan bagi seorang manusia untuk mengutuki kehidupan yang hanya sekali ini. Memalingkannya dari perasaan syukur dan berkecukupan, menjadi perasaan takut yang berlebihan.
Keterpurukanku terus berlanjut sampai pada satu momen yang menyeretku ke dasar jurang yang gelap tanpa siapapun yang akan menyelamatkanku. Keterpurukan itu disebabkan karena patah hatiku yang terdalam. Kehilangan seseorang yang ternyata begitu aku cintai dan sayangi. Seseorang yang aku harapkan dapat menjadi pendamping hidupku. Menjadi ibu dari anak-anakku. Menjadi istri yang menyejukkan pandanganku, menentramkan jiwaku, dan peneguh pijak kakiku. Namun semuanya sirna karena kesalahanku.
Anehnya, keterpurukan itu justru membangkitkanku dari jurang gelap menuju mulut jurang yang dipenuhi dengan cahaya. Tuhan sepertinya kasihan kepadaku. Tuhan sepertinya tahu, cintaku pada kekasihku begitu tulus. Menjadikan-Nya mencemburuiku. Akhirnya Tuhan ingin kembali mengambilku. Sehingga memisahkanku dengan kekasihku. Meninggalkan benih cinta-Nya ke dalam hatiku yang dengan kelembutan-Nya mendorongku untuk menjaga dan merawatnya hingga berbuah cinta yang tulus, seperti yang aku berikan pada kekasihku.
Kini aku merasakan cinta-Nya hadir dalam diriku. Mendorongku untuk terus belajar dan memperbaiki diri demi menjaga benih cinta yang telah ditanam-Nya. Walaupun terkadang aku merasa masih tidak pantas untuk menerimanya. Terkadang aku juga merasa lelah untuk bertahan. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum mampu aku terjemahkan. Dan kesalahan-kesalahan yang masih terus berulang. Masihkah aku pantas menerima ini semua, Tuhanku?
Dia yang membangunkanku di malam hari. Memberikan ampunannya untukku. Mencurahkan rahmatnya kepadaku. Mengajariku bergantung pada-Nya. Mendidikku hanya mempercayai-Nya. Menyadarkanku kembali akan status kehambaanku. Hamba yang lemah. Bodoh. Tak berdaya. Miskin. Berdosa. Bingung. Senang mengeluh. Tamak. Kikir. Angkuh. Sombong. Hamba yang selalu merasa bahwa kesulitan hidup akan mampu dilalui dengan usaha dan kemampuan diri sendiri. Kebodohan yang haqiqi.
Akhirnya aku belajar. Bahwa aku adalah hamba yang tak memiliki sedikit pun kendali atas hidupku. Bahwa kita sendirilah (atas izin Tuhan) yang memberikan makna dari kehidupan yang kita jalani. Bahwa persepsi dan kesalahpahamanku terhadap Tuhan selama ini adalah buah kebodohanku. Bahwa dengan berserah dan berpasrah pada Tuhan kehidupan ini nikmat untuk dijalani. Bahwa batas kita sebagai manusia jelas, tak memiliki daya dan upaya melainkan atas izin Tuhan Yang Maha Kuasa. Semoga Tuhan selalu melindungiku dari kelalaian, meneguhkanku dalam agamanya, dan mematikanku dalam keadaan beriman kepada-Nya.
Yogyakarta, 25/7/2026
Komentar
Posting Komentar