Langsung ke konten utama

Bahasa Cinta Tuhan

Dulu, saat kecil, aku selalu diajarkan bahwa Tuhan Maha Pemarah. Ketika aku tidak berperilaku baik maka ungkapan Tuhan akan menghukumku di neraka nyaring terdengar. Saat aku malas untuk sholat, orangtuaku selalu menakut-nakutiku dengan kemarahan Tuhan. Aku mengenal agama dan Tuhanku dengan prinsip 'iya atau tidak sama sekali'. Sehingga seperti tidak memberikan kesempatan untuk sisi manusiawiku terlibat di dalamnya. Menjadikanku seseorang yang gagal paham atau salah paham terhadap Tuhanku.

Kesalahpahamanku berlanjut hingga aku dewasa. Aku hidup dengan penuh tekanan dari identitas keagamaanku. Aku dibuat takut oleh persepsi salahku tentang Tuhanku. Ditambah dengan beban mental dan emosional yang cacat akibat kondisi keluargaku yang disfungsional. Kombinasi yang mematikan bagi seorang manusia untuk mengutuki kehidupan yang hanya sekali ini. Memalingkannya dari perasaan syukur dan berkecukupan, menjadi perasaan takut yang berlebihan.

Keterpurukanku terus berlanjut sampai pada satu momen yang menyeretku ke dasar jurang yang gelap tanpa siapapun yang akan menyelamatkanku. Keterpurukan itu disebabkan karena patah hatiku yang terdalam. Kehilangan seseorang yang ternyata begitu aku cintai dan sayangi. Seseorang yang aku harapkan dapat menjadi pendamping hidupku. Menjadi ibu dari anak-anakku. Menjadi istri yang menyejukkan pandanganku, menentramkan jiwaku, dan peneguh pijak kakiku. Namun semuanya sirna karena kesalahanku.

Anehnya, keterpurukan itu justru membangkitkanku dari jurang gelap menuju mulut jurang yang dipenuhi dengan cahaya. Tuhan sepertinya kasihan kepadaku. Tuhan sepertinya tahu, cintaku pada kekasihku begitu tulus. Menjadikan-Nya mencemburuiku. Akhirnya Tuhan ingin kembali mengambilku. Sehingga memisahkanku dengan kekasihku. Meninggalkan benih cinta-Nya ke dalam hatiku yang dengan kelembutan-Nya mendorongku untuk menjaga dan merawatnya hingga berbuah cinta yang tulus, seperti yang aku berikan pada kekasihku.

Kini aku merasakan cinta-Nya hadir dalam diriku. Mendorongku untuk terus belajar dan memperbaiki diri demi menjaga benih cinta yang telah ditanam-Nya. Walaupun terkadang aku merasa masih tidak pantas untuk menerimanya. Terkadang aku juga merasa lelah untuk bertahan. Masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum mampu aku terjemahkan. Dan kesalahan-kesalahan yang masih terus berulang. Masihkah aku pantas menerima ini semua, Tuhanku?

Dia yang membangunkanku di malam hari. Memberikan ampunannya untukku. Mencurahkan rahmatnya kepadaku. Mengajariku bergantung pada-Nya. Mendidikku hanya mempercayai-Nya. Menyadarkanku kembali akan status kehambaanku. Hamba yang lemah. Bodoh. Tak berdaya. Miskin. Berdosa. Bingung. Senang mengeluh. Tamak. Kikir. Angkuh. Sombong. Hamba yang selalu merasa bahwa kesulitan hidup akan mampu dilalui dengan usaha dan kemampuan diri sendiri. Kebodohan yang haqiqi.

Akhirnya aku belajar. Bahwa aku adalah hamba yang tak memiliki sedikit pun kendali atas hidupku. Bahwa kita sendirilah (atas izin Tuhan) yang memberikan makna dari kehidupan yang kita jalani. Bahwa persepsi dan kesalahpahamanku terhadap Tuhan selama ini adalah buah kebodohanku. Bahwa dengan berserah dan berpasrah pada Tuhan kehidupan ini nikmat untuk dijalani. Bahwa batas kita sebagai manusia jelas, tak memiliki daya dan upaya melainkan atas izin Tuhan Yang Maha Kuasa. Semoga Tuhan selalu melindungiku dari kelalaian, meneguhkanku dalam agamanya, dan mematikanku dalam keadaan beriman kepada-Nya.

Yogyakarta, 25/7/2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Progressive Reading Project

October 27, 2025 Book Title: The Curse of the Mummy Author: Joyce Hannam Year of Publication:  This book tells us about Tariq’s diary book. He accompanied Mr. Carter to find the tomb of Tutankhamun in Egypt. Tutankhamun had been a king when he was nine years old. Tariq also told that in Egyptian culture the tomb is very important. Mr. Carter had been searching Tutankhamun’s tomb five year’s along. He only had one more year to find Tutankhamun’s tomb. So, he should hurry for it. He hired a little yellow bird to help them find a Tutankhamun's tomb. Tariq was not believe that a bird can help them to find the tomb. Comment: The title of this book is very interesting because it shows adventures vibes. November 2, 2025 Suddenly Karim, Tariq's friend who help Mr. Carter and Tariq in this mission, said he find a new clue. He find a step in the sand that them dig together. Karim and Tariq tell it to Mr. Carter Immediately. Then they are very happy. Mr. Carter give them an order to keep ...

Terlalu Jauh

Sulit sekali rasanya mendeskripsikan apa yang sedang aku rasakan. Kecenderungan untuk terus merasa sensitif, mudah marah, murung berhari-hari, sulit berkomunikasi, senang menyendiri, dan kesulitan untuk tidur. Perasaan yang semakin hari semakin menguasai diri. Sulit menghindar apalagi meninggalkan. Di mana letak kesalahan diri ini? Mencoba menelusuri setiap persimpangan. Mencoba segala hal dari kebaikan hingga keburukan. Nyatanya sulit sekali untuk menemukan jawaban. Seolah diri ini dibuat bingung dengan keadaan. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang salah dalam diri ini? Sudah cukup lelah diri ini untuk terus mencari. Keputusasaan seolah telah menanti, melambai, dan mulai menghampiri. Pagi ini, tanpa sengaja terlintas dalam pikiranku untuk menonton podcast Ust. Felix Siauw dengan Remond Chin. Podcast yang membahas mulai dari pentingnya nalar berpikir dalam beragama, jodoh, hingga membahas persoalan pemimpin. Menelusuri detik demi detik dan cukup banyak hal baru yang diri ini peroleh. ...

Kedukaan Atau Apa Pun Namanya Adalah Pembelajaran Yang Mahal

Coba berhenti sejenak. Menengok ke belakang. Kemudian tanyakan pada diri sendiri. Kapan terakhir kali merasa sedih, kecewa, galau, susah, gundah, atau pun duka? Momen apa yang telah terlalui sampai perasaan tidak nyaman tersebut muncul di permukaan? Cobalah jawab. Resapi setiap momen dari jawaban yang keluar. Kemudian hati akan tersadar bahwa kedukaan atau apa pun namanya adalah pembelajaran yang mahal. Pembelajaran dengan rasa sakit, biasa timbul dari kesalahan. Kesalahan diri sendiri. Inilah yang utama. Mungkin karena terlalu sombong. Mungkin kurangnya bersyukur. Mungkin merasa tidak ada yang dapat mengalahkanku. Mungkin merasa aku adalah pusat dunia dan tata surya. Kesalahan yang menjerumuskan. Ibarat berjalan di jalan berlumut dengan sandal swallow, terpeleset. Jatuh. Tertumbuk benda tumpul. Memar. Akhirnya sulit untuk berjalan beberapa waktu. Namun setelahnya, akan jauh lebih berhati-hati. Akan lebih bijak. Akan lebih mawas diri. Seorang teman lama berkata dalam sebuah cuitan. Unt...