Refleksi minggu ini cukup spesial karena aku mendapatkannya dari seseorang yang aku sayangi dan cintai. Meskipun sekarang aku dipaksa menerima fakta bahwa dia tidak lagi dalam dekapanku. Sejujurnya aku masih sayang dia. Maaf kalau aku menyebalkan. Aku masih belum benar-benar sembuh dari efek buruk traumaku. Maaf ya sayangku.
Oke, jadi begini. Aku merasakan sesuatu yang baru aku sadari sejak aku bangun tidur pagi ini. Selama ini aku benar-benar gak pernah menyadari hal ini karena berjalan otomatis. Pola ini berulang bukan hanya kepada mantan kekasihku melainkan juga kepada orang lain. Apa lagi saat aku di posisi salah. Jika sudah seperti itu, tanpa aku sadari pola ini langsung menguasaiku dengan cepat.
Momen aku menyadari hal ini cukup unik sebenarnya. Semalam aku berbicara via chat dengan dia mantan kekasihku yang masih aku sayangi. Argumen demi argumen saling bergantian kami berikan. Sampai di titik dia membalas dengan pesan-pesan singkat.
"Ya"
"Sepakat"
"Goodluck yaa"
*Sticker bergambar tepuk tangan.
Sebenarnya aku tidak sempat membalas pesannya karena aku sudah tidur terlebih dahulu. Baru kemudian paginya aku membaca pesannya dan menyadari ada sesuatu yang tidak pas. Aku bisa merasakan nuansa kejengkelan dari cara dia membalas pesanku. Dari situ aku mulai menelaah lagi pesan-pesan balasanku dan aku menemui balasanku penuh dengan nuansa defensif. Seolah-olah aku tidak mau jadi orang yang salah sendiri. Padahal akulah yang memang salah.
Akhirnya pagi ini aku berkesempatan untuk merefleksikan diriku. Aku menyadari sebuah pola yang emang selama ini melekat pada diriku. Semuanya masih mengarah ke muara yang sama yaitu eksistensialku masih bergantung kepada penilaian orang lain. Aku belum merasa aman dengan diriku sendiri. Sehingga ketika aku dalam posisi salah, aku selalu merasa bahwa itu adalah identitasku. Jadilah aku dikuasai pikiran burukku. Berpikir jika aku melakukan satu kesalahan aku akan selalu salah dan tak pernah bisa baik. Orang-orang akan juga melihatku seperti itu. Aku akan dibenci. Aku akan binasa di dunia ini.
Agak lebay, ya. Tapi emang lebay sih, ini. Gak papa biar gak tegang-tegang banget. Hehehehe...
Setelahnya aku mencari tahu bagaimana cara yang pas buat mengelola hal itu? Aku menemukan jawabannya dan aku merasa sangat setuju dengan jawaban itu. Aku merasa relate dengan solusi-solusi di bawah ini:
1. Menangkap momennya sebelum bereaksi. Ini yang sulit. Gerbang berat yang harus aku hadapi terlebih dahulu. Karena di gerbang ini yang menjadi awal dari langkah-langkah berikutnya. Aku merasa dibutuhkan kesadaran dan keberanian yang besar untuk menghadapi momen awal ini. Pertanyaan yang wajib diajuin di sini adalah "ini aku coba membela diri, atau lagi benar-benar dengar?"
2. Memisahkan "aku salah di sini" dari "aku orang buruk". Tahap ini yang diam-diam selalu aku tanamkan pada diriku sendiri ketika aku sedang tidak baik-baik saja. Misal aku mendapatkan komentar karena penampilanku, maka aku diam-diam menanamkan dalam diri bahwa aku orang katro/ndeso. Gak tau fashion dan aku emang tidak semenarik orang lain. Wahhh, bahaya banget pikiran ini. Menjadikan hal buruk menjadi identitas, sedangkan hal baik selalu dilupain. Huekkkk.
3. Latihan duduk dengan rasa tidak nyaman tanpa harus langsung menyelesaikannya. Ah, ini tantangan terbesarku. Selama ini aku seringnya selalu kabur. Flight. Gak pernah berani menemui rasa sakitku hehehehe... Jadinya aku tidak benar-benar mengetahui bagaimana rasa gak nyamannya. Padahal nyatanya setelah dirasakan gak seburuk yang ada di dalam pikiranku. Emang bener ya, akal-akalan pikiran ini membahayakan. Next time aku akan mencoba buat merasakan seutuhnya rasa gak nyamanku itu ketika datang.
Huaaaaaaaa... pengen berteriak rasanya. Seru tapi capek banget mengenali diri sendiri, tuh. Baiqlah. Kayaknya cukup sampai di sini refleksiku kali ini. Saatnya kita akhiri. Semoga aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Yogyakarta, 12/9/2026
Komentar
Posting Komentar