Langsung ke konten utama

Aku Belum Selesai

Kembali lagi dengan refleksi mingguan di blog kesayanganku. Aku lanjutkan lagi cerita perjalananku kembali kepada diriku sendiri. Dengan semakin hiruk-pikuknya suasana dunia yang fana ini, tak menyurutkanku terus berusaha mengenali diriku sendiri. Karena seperti kata Hegel, semua itu berubah, tidak ada yang tetap, begitu pun aku yang selalu berubah dari hari ke hari. Tinggal ke mana arah perubahan itu, ke arah kebaikan atau keburukan?

Aku awali ceritaku pagi tadi jam 10 pagi, saat aku selesai melakukan sholat dhuha. Aku duduk termenung setelah salam kedua. Sesaat banyak pikiran mulai menyerangku dari berbagai arah. Aku terima semua itu dengan tangan terbuka. Aku telah belajar, apapun yang datang jangan kamu tolak. Terima saja dulu. Meskipun ada perasaan yang tidak nyaman membersamai pikiran yang menyerangku tadi, tetapi aku tetap menerimanya.

Aku mulai memproses satu per satu pikiran-pikiran yang datang. Sembari mengadahkan tangan, ketakutan akibat pikiran yang menyerangku aku lawan dengan doa kepada Tuhanku. Beberapa kali aku sempat menangis. Ingus keluar dari hidungku. Aku hampir menangis sesenggukan. Aku curahkan segala kelemahanku pada Tuhanku. Dosa-dosa yang menjeratku tak henti-hentinya tak luput aku mohonkan ampun pada-Nya. Aku berdoa pada Tuhanku semoga apa yang menimpaku adalah ujian-Nya bukan hukuman-Nya.

Setelah zuhur, aku melanjutkan melakukan refleksi yang ditemani AI. Aku bertanya dan menjawab beberapa pertanyaan yang diberikan AI. Aku mendapati ketakutanku muncul yang membuat perasaanku tidak nyaman adalah karena aku terlalu panjang angan-angan. Menaruh taruhan yang besar pada hal yang masih jauh dari tangan (masa depan). Aku selalu berpikir harus sudah begini dan begitu agar dapat diterima sebagai aku. Aku membebani diriku sendiri dengan hal-hal yang sesungguhnya di luar kendaliku.

Dari sini aku menyadari, bahwa aku belum selesai. Aku masih harus terus belajar. Masih harus terus berani menghadapi persoalan hidup. Selama aku masih hidup, selama itu juga aku harus memikul beban ini. Namun beberapa minggu yang lalu aku sempat hampir tersandera oleh kesombonganku. Merasa bahwa aku sudah mengetahui rahasia kehidupan ini. Seolah-olah aku sudah bisa berada di jalan yang lurus tanpa berbelok-belok lagi. Saat itu aku seperti lupa. Lupa bahwa aku masih manusia.

Namun gejolak yang terus muncul dalam diriku menyadarkanku bahwa ternyata masih banyak yang perlu aku perbaiki. Keyakinanku masih keliru. Cara pandangku belum menghadap ke arah yang benar. Usahaku masih setengah-setengah. Aku masih senang dengan kenyamanan dari pada perjuangan. Diam-diam aku masih terjerat oleh penilaian sosial. Itu baru yang aku sadari. Belum yang masih tersimpan di dalam diri. Benar kata seorang bijak, hati manusia adalah palung terdalam di muka bumi. Tidak pernah ada yang benar-benar tahu isi hati manusia bahkan diri sendiri. Maka hanya kepada Tuhanlah kita meminta petunjuk.

Aku menulis ini, semata-mata sebagai bahan pengingat diriku sendiri. Mungkin beberapa bulan atau tahun aku akan membacanya lagi. Semoga di momen itu aku sudah jauh lebih baik dari aku yang sekarang. Aku berharap aku sudah lebih memahami bagaimana menjadi seorang manusia. Manusia yang hidup dan menghidupi di dunia. Manusia yang taat kepada Tuhannya dan berwelas asih kepada sesama. Semoa Engkau catat setiap refleksi yang aku tuliskan di blog pribadiku ini sebagai sebuah bentuk perjuanganku menjadi manusia dan hamba yang lebih baik. Sehingga denganya Engkau memberikan petunjuk dengan ridho dan rahmat-Mu yang luas.

Yogyakarta, 6 September 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Progressive Reading Project

October 27, 2025 Book Title: The Curse of the Mummy Author: Joyce Hannam Year of Publication:  This book tells us about Tariq’s diary book. He accompanied Mr. Carter to find the tomb of Tutankhamun in Egypt. Tutankhamun had been a king when he was nine years old. Tariq also told that in Egyptian culture the tomb is very important. Mr. Carter had been searching Tutankhamun’s tomb five year’s along. He only had one more year to find Tutankhamun’s tomb. So, he should hurry for it. He hired a little yellow bird to help them find a Tutankhamun's tomb. Tariq was not believe that a bird can help them to find the tomb. Comment: The title of this book is very interesting because it shows adventures vibes. November 2, 2025 Suddenly Karim, Tariq's friend who help Mr. Carter and Tariq in this mission, said he find a new clue. He find a step in the sand that them dig together. Karim and Tariq tell it to Mr. Carter Immediately. Then they are very happy. Mr. Carter give them an order to keep ...

Terlalu Jauh

Sulit sekali rasanya mendeskripsikan apa yang sedang aku rasakan. Kecenderungan untuk terus merasa sensitif, mudah marah, murung berhari-hari, sulit berkomunikasi, senang menyendiri, dan kesulitan untuk tidur. Perasaan yang semakin hari semakin menguasai diri. Sulit menghindar apalagi meninggalkan. Di mana letak kesalahan diri ini? Mencoba menelusuri setiap persimpangan. Mencoba segala hal dari kebaikan hingga keburukan. Nyatanya sulit sekali untuk menemukan jawaban. Seolah diri ini dibuat bingung dengan keadaan. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang salah dalam diri ini? Sudah cukup lelah diri ini untuk terus mencari. Keputusasaan seolah telah menanti, melambai, dan mulai menghampiri. Pagi ini, tanpa sengaja terlintas dalam pikiranku untuk menonton podcast Ust. Felix Siauw dengan Remond Chin. Podcast yang membahas mulai dari pentingnya nalar berpikir dalam beragama, jodoh, hingga membahas persoalan pemimpin. Menelusuri detik demi detik dan cukup banyak hal baru yang diri ini peroleh. ...

Kedukaan Atau Apa Pun Namanya Adalah Pembelajaran Yang Mahal

Coba berhenti sejenak. Menengok ke belakang. Kemudian tanyakan pada diri sendiri. Kapan terakhir kali merasa sedih, kecewa, galau, susah, gundah, atau pun duka? Momen apa yang telah terlalui sampai perasaan tidak nyaman tersebut muncul di permukaan? Cobalah jawab. Resapi setiap momen dari jawaban yang keluar. Kemudian hati akan tersadar bahwa kedukaan atau apa pun namanya adalah pembelajaran yang mahal. Pembelajaran dengan rasa sakit, biasa timbul dari kesalahan. Kesalahan diri sendiri. Inilah yang utama. Mungkin karena terlalu sombong. Mungkin kurangnya bersyukur. Mungkin merasa tidak ada yang dapat mengalahkanku. Mungkin merasa aku adalah pusat dunia dan tata surya. Kesalahan yang menjerumuskan. Ibarat berjalan di jalan berlumut dengan sandal swallow, terpeleset. Jatuh. Tertumbuk benda tumpul. Memar. Akhirnya sulit untuk berjalan beberapa waktu. Namun setelahnya, akan jauh lebih berhati-hati. Akan lebih bijak. Akan lebih mawas diri. Seorang teman lama berkata dalam sebuah cuitan. Unt...