Alasan Ingin Dipilih
Kapan pertama kali aku mulai merasa perlu diakui secara sosial — peristiwa atau momen apa yang memicunya?
- Pertama kali saat aku merasa perlu diakui secara sosial adalah saat aku duduk di bangku SMP. Saat itu kehidupan sosialku berubah signifikan. Aku bertemu dengan banyak teman baru dari latar belakang yang berbeda-beda. Di sana aku belajar pola struktur sosial baru di mana yang kaya, tampan, cantik, pintar, dan menarik adalah mereka yang akan mudah diterima oleh lingkungan sosial. Hal ini memang cukup berbeda saat aku masih di tingkat SD. Di tingkat SD lingkungan sosial masih begitu polos. Masih benar-benar pure hubungan pertemanan anak kecil tanpa bumbu-bumbu sosial lainnya. Sepertinya memang berawal dari bangku SMP ini secara tidak sadar aku menanamkan pemahaman yang keliru akan nilai diriku. Kekeliruan ini terus berlanjut hingga aku di titik sekarang yang hampir kepala tiga. Membuatku merasa bahwa aku tidak pernah cukup berharga untuk menjadi pilihan bagi seseorang yang aku anggap menarik. Padahal faktanya tidak sesederhana itu dalam menyikapi dinamika sosial. Karena ada faktor-faktor lain yang menentukan. Kini aku sedang mencoba membalikkan keadaanku untuk membenarkan pola pikir yang sudah terlanjur keliru.
Apa yang kubayangkan akan berubah dalam hidupku jika aku lebih diakui orang lain?
- Aku membayangkan hidupku akan lebih bahagia. Beban dalam kehidupan sehari-hariku terasa lebih ringan. Aku selalu membayangkan sangat menyenangkan kehidupan yang aku jalani saat bisa menjadi pilihan pertama bagi orang lain. Dunia akan terasa aman dan nyaman karena aku merasa dilindungi. Aku bisa merasa bebas mengungkapkan segala emosi yang aku rasakan meskipun terkadang aneh dan di luar nalar tanpa pernah mendapatkan penghakiman. Aku membayangkan aku diberikan perlindungan dari setiap kesalahanku. Seseorang yang memilih aku tidak pergi meninggalkanku tetapi justru menggandengku untuk memberi tahu bahwa selama ini aku keliru dalam menjalani kehidupan. Kemudian dengan penuh kasih sayang bersamaku belajar hal-hal yang benar.
Apakah keinginan ini murni dariku, atau ini refleksi dari apa yang dianggap "berhasil" oleh lingkunganku?
- Sejujurnya aku menyadari bahwa semua ini adalah hasil refleksi dari apa yang dianggap berhasil, benar, dan patut oleh lingkunganku. Selama ini aku terlalu takut menabrak segala hal yang sudah ditanamkan pada diriku sejak kecil. Aku tidak pernah berani menapaki jalan kritis menanyakan adakah alternatif lain dari segala hal yang sudah aku yakini? Aku selalu menahan diriku. Berganti topeng ke topeng yang lain hanya demi dianggap berhasil, benar, dan patut oleh lingkunganku. Nilai yang tertanam di dalam diriku terlalu kuat sehingga cukup sulit bagiku untuk melepaskannya. Bayangan akan penolakan selalu menghantuiku ketika aku mencoba menapaki panggilan jiwaku. Oleh karena itu, aku selalu mencoba mencari seseorang yang aku anggap menarik hanya sebagai bentuk bukti bahwa aku berhasil, benar, dan patut di tengah lingkunganku.
Kekosongan apa yang sebenarnya coba kuisi dengan pengakuan ini?
- Kekosongan yang ingin sekali aku isi dari pengakuan atau dipilih oleh seseorang adalah penerimaan. Jalan cerita hidupku cukup berlika-liku dengan titik terberat adalah pada pertanyaan apakah aku ini berharga? Pertanyaan ini muncul karena -dalam pengalaman hidupku yang baru sekali dan hanya akan sekali ini aku jalani- saat masa pertumbuhanku aku mengalami kontradiksi perlakuan dari orang-orang yang aku sayangi. Saat kecil ketika aku berprestasi maka orang-orang akan menyanjungku. Menerimaku dan memujiku sebagai anak yang pintar dan baik. Namun di sisi lain saat aku menangis, menuntut sesuatu, dan mencoba menyampaikan keinginanku, respon orang-orang di lingkunganku berubah dengan drastis. Seolah aku menjadi beban pikiran bagi mereka. Dari situ aku belajar bahwa aku harus menjadi berhasil untuk dapat diakui dan harus tetap diam menurut tanpa sekalipun menceritakan kesulitan yang aku hadapi. Penerimaan yang tulus tidak pernah benar-benar aku rasakan seumur hidupku.
Nilai Diri
Apakah aku menghargai diriku berdasarkan siapa aku, atau berdasarkan bagaimana orang lain memandangku?
- Jujur sampai titik ini aku menghargai diriku berdasarkan bagaimana orang lain memandangku. Aku tidak pernah puas sebelum orang lain memujiku. Memberikan komentar, tanda suka, atau reaksi lainnya pada setiap unggahan di akun media sosialku adalah salah satu hal yang selalu aku tunggu dari orang lain terhadapku. Di sini aku belajar untuk jujur pada diriku sendiri. Belajar bertelanjang yang benar atas setiap hasrat di dalam diriku. Di sini aku belajar untuk tidak malu mengakui akan keinginan-keinginanku. Ya, aku masih menggantungkan harga diri, nilai diri, dan penerimaan diri pada bagaimana orang lain memandangku.
Kalau semua pencapaian dan pujian dihapus, apa yang masih tersisa dari nilai diriku?
- Jika semua pencapaian dan pujian dihapuskan maka yang tersisa adalah tinggal diriku sendiri yang kosong apa adanya. Aku yang mungkin tidak diinginkan orang lain. Mungkin juga aku yang lantas belajar untuk menerima apa adanya diriku sendiri. Mungkin dunia akan memunggungiku. Mungkin juga aku akan bernafas lega karena topeng-topeng yang selama ini menjadi corakku pecah seketika. Mungkin aku akan menapaki dunia ini dengan kesendirian. Namun bukan berarti aku menapaki dunia ini dengan rasa kesepian. Ahh, benar juga, nilai diriku tidak akan pernah berubah. Nilai diriku ya begitu-begitu saja. Semua netral. Semua kembali pada lembaran kosong. Justru aku yang harus mulai bertindak. Mengisi lembaran kosong itu dengan makna hidup yang berarti bagiku dengan tanganku sendiri tanpa bergantung pada pencapaian dan pujian. Karena pencapaian dan pujian bukanlah esensi, melainkan hanya efek dari karya jerih payah tangan-tanganku sendiri.
Apakah harga diriku naik-turun mengikuti komentar atau perhatian orang lain? Apa artinya itu?
- Ya, harga diriku masih naik-turun mengikuti komentar atau perhatian orang lain padaku. Dengan demikian berarti bahwa aku perlu banyak belajar lagi. Memperbaiki pola pikir keliru yang telah mengakar kuat dalam sistem kepercayaanku. Ini tidak mudah. Namun juga bukan hal yang mustahil untuk diwujudkan. Meletakkan nilai diri pada pandangan orang lain adalah tindakan orang bodoh. Aku tidak mau menjadi orang bodoh. Aku ingin terus belajar menjadi orang yang memiliki pemahaman dan wawasan kehidupan yang luas. Sekiranya semua ini terjadi karena luka batinku yang belum sembuh. Maka aku ingin menyembuhkannya dan menguatkan diriku dengan ilmu. Sehingga ilmu itu menjadi benteng diriku dalam mengarungi kehidupan yang hanya sekali ini.
Nilai apa dalam diriku yang tidak butuh validasi siapa pun untuk terasa nyata?
- Aku adalah manusia, aku adalah hamba. Nilaiku sebagai manusia tidak membutuhkan validasi siapapun. Aku mulai merasa utuh menjadi seorang manusia. Menyadari nilai manusia tidak selalu bernilai positif karena bisa saja bernilai negatif. Menjadi manusia tidak selalu harus bahagia. Sesekali kesedihan datang adalah hal wajar. Menjadi manusia tidak selalu harus benar. Karena kesalahan adalah ladang mengambil pembelajaran. Inilah nilai yang aku rasakan akhir-akhir ini tanpa perlu validasi siapapun. Di sisi lain aku juga merasa nilai diriku sebagai seorang hamba bisa dengan utuh aku rasakan. Berangkat dari sisi manusia dalam diriku yang lemah, aku sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan. Maka aku menyadari bahwa tidak ada yang mampu menolong selain Dia Yang Maha Kuat.
Kebebasan
Seberapa banyak keputusanku belakangan ini dibuat demi menjaga citra, bukan demi apa yang benar-benar kuinginkan?
- Cukup banyak! Dan hampir semua keputusanku belakangan ini demi menjaga citra. Sayangnya setiap pengambilan keputusan ini aku lakukan tanpa kesadaranku. Artinya, keputusan yang aku ambil tidak melalui sensor ketat dari hasil perenunganku. Aku ingin setidaknya, jika keputusan yang aku ambil memang untuk menjaga citra, aku ingin menyadarinya. Sehingga aku bisa lebih mengelola perasaanku dan respons dari efek yang timbul akibat pilihan keputusanku. Ini yang menjadi tantanganku saat ini. Belajar untuk lebih sadar dalam setiap keputusan hidup yang aku pilih dan jalani.
Apakah mengejar pengakuan membuatku lebih bebas, atau justru membuatku terikat pada penilaian orang lain?
- Sejujurnya mengejar pengakuan membuatku terasa terikat. Aku merasa selalu menahan diri untuk tidak mengikuti kata hati. Aku tahu semua ada norma dan batasnya, makanya aku juga menyadari sejauh mana dan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Namun terkadang lingkungan membuatku benar-benar harus menahan tanpa peduli. Aku harus bersikap baik. Aku harus bersikap menurut. Aku harus serba bisa ketikda ditanya. Aku harus setuju dengan setiap ide yang dilontarkan. Aku merasa dibungkam. Aku merasa harus selalu menyesuaikan dengan sepatu yang bahkan ukurannya tidak pernah pas untukku sejak awal. Namun masih saja aku terus melakukan hal itu. Hanya demi urusanku lancar. Hanya demi agar aku tetap diterima. Hanya demi supaya aku dianggap sama.
Jika tidak ada yang menilaiku, apa yang akan kulakukan berbeda hari ini?
- Aku akan tertawa sekeras-kerasnya. Menghabiskan waktuku dengan tidur seharian. Bermain gadget sampai lupa waktu. Membeli makanan favoritku. Makan dengan banyak. Jalan-jalan sore sambil tersenyum sendiri. Berbicara dengan diri sendiri (self-talk) di depan orang lain. Aku akan menyapa seluruh teman yang ada di kontak Whatsappku. Menanyakan kabar dari masing-masing mereka. Aku akan closure pada seseorang. Aku akan bilang padanya bahwa perasaanku belum selesai dengannya. Aku ingin bilang bahwa aku masih sayang padanya dan mengharapkannya. Meskipun jalan untuk kembali sudah pasti hampir tidak ada tetapi aku ingin memastikan untuk terkahir kalinya bahwa dia tahu aku mencintainya terlepas dari kebodohanku telah meninggalkannya.
Apakah aku sedang menjalani hidupku, atau menjalani versi hidup yang ingin dilihat orang lain?
- Secara keseluruhan aku masih menjalani kehidupan dengan versi hidup yang ingin dilihat orang lain. Mungkin karena aku telah terlanjur mengidentifikasi diriku sendiri dengan sebuah status tertentu. Sehingga aku akan merasa gagal dan tidak berharga ketika status itu tidak terwujud dalam interaksi yang aku lakukan dengan orang lain. Mungkin aku telah melakukan self-proclaim bahwa aku ini pintar, pendiam, selalu diinginkan, dikagumi, dan sosok sempurna seorang lelaki. Sehingga aku selalu ingin mempertahankan status yang muncul dari pengakuan sepihak tersebut. Merasa tersinggung ketika orang lain mengkritikku. Marah ketika orang lain tidak memperlakukanku seperti seharusnya. Malu ketika aku gagal menampilkan atraksi peranku di hadapan orang lain. Rumit sekali ketika diri tidak menjadi diri sendiri.
Kebenaran
Apakah citra yang kutampilkan ke publik sesuai dengan siapa aku sebenarnya di saat sendirian?
- Tidak sepenuhnya sesuai tetapi tidak sepenuhnya tidak sesuai. Aku merasa aku cukup menampilkan citra diriku sama seperti saat aku sendiri. Mungkin perbedaannya ada di kejujuran atas diri sendiri. Kesamaan yang aku tampilkan untuk orang lain dan saat aku sendiri sangat dipengaruhi nilai kejujuran diri ini. Seringnya tanpa sadar apa yang aku rasakan dan yang aku inginkan ini kabur. Seolah semua bergerak secara otomatis tanpa melalui penilaian dari pikiran diri sendiri. Jadi sangat wajar bahwa apa yang aku tampilkan di hadapan orang lain dan saat aku sendiri hampir sama. Meskipun tetap lebih besar persentase bermain peran di hadapan orang lain.
Kebenaran apa tentang diriku yang kusembunyikan demi terlihat baik di mata orang lain?
- Selama ini hal yang aku sembunyikan dari orang lain adalah aku adalah seorang yang rapuh. Aku ketakutan setengah mati dalam menjalani kehidupan ini. Mulai dari ketakutan akan ekonomi, penerimaan sosial, sampai ketakutan akan arti diri. Aku ingin dipilih karena aku ingin dilihat apa adanya. Justru dengan dilihat apa adanya aku bisa lebih lepas dalam berjuang. Bukan semata mencari perhatian tetapi tulus dari hati karena telah memberikanku ruang. Ruang aman yang menyediakan diriku untuk berkembang menjadi manusia yang terus bertumbuh. Aku ini seorang yang rapuh. Namun sayang dari kerapuhanku ini justru menjadi senjataku untuk menyakiti orang lain dengan sikap seenakku sendiri.
Apakah aku lebih peduli dianggap benar, atau benar-benar berusaha mencari kebenaran?
- Jelas, aku lebih peduli dianggap benar. Mau beradu argumen seperti apa pun tetap aku ingin dianggap paling benar. Entah luka mana yang sedang coba aku lindungi. Namun kegagalan dalam mempertahankan kebenaran membuatku merasa terluka dan terserang. Aku merasa kecil dan kalah. Merasa bahwa aku bodoh sehingga mulai berpikir aku bukanlah orang yang cukup baik untuk dipilih. Aku akan mengisi hidup ini dengan kesendirian. Tak akan pernah ada yang benar-benar berdiri membelaku karena aku memiliki kekurangan. Maka dengan jujur aku mengatakan aku lebih peduli dianggap benar dari pada mencari kebenaran.
Jika jujur, apakah pengakuan sosial benar-benar membuatku bahagia, atau hanya terasa aman sesaat?
- Sebenarnya pengakuan sosial hanya memberiku rasa aman sesaat. Karena nyatanya hal itu cepat menguap seperti uap air mendidih. Sehingga aku merasa harus selalu mendapatkan pengakuan sosial itu. Selalu mencari cara lagi dan lagi agar pengakuan itu tetap tersuplai dengan lancar tanpa halangan. Pengakuan sosial atau pengakuan orang lain memang nyatanya tidak pernah cukup membuatku bahagia, justru seringnya membuatku jatuh pada lingkaran setan kecanduan, meskipun faktanya aku masih selalu gagal untuk terlepas darinya.
Hubungan
Apakah orang-orang di sekitarku menyukaiku, atau menyukai citra/status yang kutampilkan?
- Aku tidak tahu pasti. Aku sulit memastikan. Namun asumsiku selalu berkata bahwa aku tidak cukup baik untuk orang lain. Aku diterima karena apa yang tampak dariku di luar. Tidak benar-benar mengetahui sisi terdalam diriku. Pengalamanku berkata bahwa setiap kali aku mencoba menampilkan sisi terdalam diriku yang penuh luka dan cacat pada akhirnya mereka menyerah dan memilih pergi. Mungkin memang mereka lebih menyukai citra/statusku dibandingkan dengan kondisi nyata diriku yang apa adanya. Namun ini masih asumsiku karena aku belum pernah benar-benar seterbuka itu pada orang lain. Atau mungkin aku hanya belum menemukan seseorang yang tepat untukku?
Bagaimana kualitas hubunganku berubah ketika aku berhenti mengejar pengakuan dari orang tersebut?
- Ketika aku memilih untuk berhenti mengejar pengakuan seseorang biasanya yang terjadi adalah hubungan itu menjadi renggang. Aku memilih untuk tidak mempedulikannya sama sekali. Sering kali hal ini terjadi saat aku sudah disepelekan sejak awal. Sudah tidak dianggap dan direndahkan. Aku akan memilih untuk menarik diri dan menutup harapanku. Namun tantangannya justru terjadi pada orang-orang yang seperti memberikan harapan padaku. Menjadikanku terjebak dalam ilusi pengakuan sosial. Parahnya ketika telah terjebak akan sulit bagiku untuk melepaskan. Ketika aku paksa untuk berhenti mengejar pengakuan yang terjadi adalah aku merasa begitu terluka. Batinku seperti dikoyak-koyak belati. Pikiranku mulai kacau dan meracau. Berpikir bahwa aku tidak berharga bahkan sampai berpikiran ingin mengkahiri diri. Sungguh lebih baik mencegah dari pada mengobati.
Siapa yang tetap ada untukku ketika aku tidak sedang "bersinar"?
- Diri sendiri dan Tuhan. Dia yang pada akhirnya akan selalu setia menemaniku saat aku terjatuh dan mencoba untuk bangkit. Tentunya atas izin Tuhanku aku bisa melalui ini semua. Karena selain diriku sendiri, Tuhanku selalu membersamaiku. Tak terhitung banyaknya kesalahan dan keburukan yang aku lakukan. Namun nyatanya Tuhanku selalu membimbingku. Saat diri sendiri memusuhiku, Tuhanku tetap memberi makan aku. Memberikan penghiburan dengan ciptaan-Nya yang tersebar di seluruh bumi. Sungguh, tanpa-Mu mungkin aku telah binasa.
Apakah aku membangun hubungan yang dalam, atau sekadar memperluas jaringan pengakuan?
- Faktanya, tidak ada yang benar-benar mengetahui seluk-beluk kehidupanku. Sisi paling akrab dan sisi paling asing diriku tak banyak yang orang tahu. Teman-temanku hanya hitungan jari. Dengan kadar kedekatan yang menurutku masih jauh dari kata sahabat. Selama ini aku banyak mengikuti kegiatan, organisasi, dan komunitas sejatinya ingin sekali mendapatkan hubungan yang dalam. Namun ternyata aku masih terjebak dalam memperluas jaringan pengakuan. Karena aku terlalu takut mengenalkan diriku dengan versi terjujurku. Sejak awal bertemu, aku selalu menampilkan sisi kemilau topeng penunjang permainan peranku. Ya, lagi-lagi aku terjebak di lingkaran setan yang tak berujung dan masih sulit terlepas darinya.
Batas
Sejauh mana aku rela mengubah diriku demi diterima atau diakui orang lain?
- Sejauh orang lain itu akan memberikan rasa aman dan nilai diriku meningkat. Aku bisa berkorban begitu banyak jika dirasa peluang itu bisa aku dapatkan. Berjuang harta, waktu, dan tenaga tidak pernah menjadi masalah bagiku. Bahkan yang sebelumnya tidak ada terus diada-adakan juga pernah aku lakukan. Kegilaan usaha yang aku berikan hanya untuk diterima dan diakui orang lain sudah terlalu sering aku lakukan. Aku sudah sampai di tahap stress dan depresi hanya karena mengejar pengakuan orang lain. Rasa ingin diterima, diakui, dan disukai orang lain telah meleburku menjadi debu tak bersisa. Hanya kehampaan yang selalu aku rasakan setelah rasa candu tak dapat terpenuhi. Bolak-balik aku ke psikolog hanya untuk menyelesaikan satu permasalahan yang tak kunjung tuntas: rasa sia-sia dari pengorbananku untuk diterima dan diakui orang lain.
Kapan aku pernah mengorbankan nilai atau prinsipku demi terlihat baik di mata publik?
- Sering sekali aku melakukan hal ini hanya demi terlihat baik di mata publik. Salah satu contoh yang paling aku ingat adalah saat aku tergabung dalam komunitas kesukarelawanan. Aku mendonasikan cukup banyak dari penghasilanku hanya demi mendapatkan pujian dari penghuni grup Whatsapp kami. Kejadian itu tidak hanya sekali dua kali tetapi sudah berkali-kali. Mengorbankan prinsipku untuk mengelola keuangan secara bijak. Mengorbankan prinsipku untuk mendahulukan kebutuhan diri sendiri. Akhirnya bukan rasa ikhlas yang aku peroleh melainkan rasa hampa yang mencekat ketika efek pujian yang diberikan padaku telah memudar.
Apa yang tidak akan pernah kukorbankan, apa pun risikonya terhadap popularitasku?
- Keimananku pada Tuhanku. Ini adalah hal yang tak akan pernah kukorbankan apa pun risikonya terhadap popularitas/pengakuan sosial terhadapku. Saat ini aku belajar untuk menggantungkan segala sesuatu pada-Nya. Aku sudah terlalu lelah untuk mengejar pengakuan sosial. Walaupun aku belum benar-benar bisa lepas dari pengejaran validasi itu. Maka kini aku berlari untuk kembali pada Tuhanku. Dan tak akan pernah aku korbankan apa yang telah aku peroleh dari Tuhanku hanya untuk pengakuan sosial atau validasi manusia.
Bagaimana aku tahu kalau aku sudah melewati batas antara "menjaga citra" dan "kehilangan diri sendiri"?
- Aku belum mengetahui. Aku belum bisa membedakan dengan jelas perbedaannya. Dalam benakku, semua terlihat seperti benang tipis yang memisahkan. Tidak terlihat. Semua seperti berjalan otomatis. Aku belum mampu menghentikannya hanya sekadar menilai dengan rasionalitas apakah ini pantas untuk diperjuangkan? Seringnya aku terhanyut dan kehilangan diri sendiri. Maka dengan refleksi ini aku berusaha. Dengan refleksi ini aku ingin menggali kembali bagian diri yang masih tertutupi. Semoga setelah ini, jalan solusi dibukakan untukku. Membebaskanku dari belenggu haus akan validasi orang lain.
Yogyakarta, 15 Agustus 2026
Komentar
Posting Komentar