Terus dan terus aku memikirkan hal ini. Aku belum dapat ikhlas sepenuhnya atas hilangnya dirimu dari kehidupanku. Mungkin ini yang dinamakan proses menerima kedukaan dari sisi psikologis yang banyak dibicarakan akhir-akhir ini di banyak platform sosial media. Atau mungkin apa yang aku rasakan saat ini menyimpan misteri lain yang belum terjawab? Aku lebih senang jika semua yang aku rasakan ini adalah bentuk Tuhan menjagaku dari orang lain yang nantinya akan mempertemukan kita dalam versi diri yang lebih baik dan siap menjadi pasangan sehidup-semati.
Sudah berjalan bulan kelima semenjak akhirnya kita melalui jalan yang berbeda. Aku masih ingat dengan jelas kesalahan berulang yang aku lakukan padamu. Aku tahu kamu mencintaiku dengan hebat. Terbukti dari caramu bersabar atas perangaiku yang kelewatan. Tetap tersenyum manis padaku meskipun ternyata hatimu menyimpan luka yang menganga. Aku masih mengingat betapa enaknya spageti dan katsu masakanmu kala itu. Dua makanan yang mungkin tak akan pernah lagi dapat aku nikmati di sisa hidupku. Bukan karena aku tak bisa membeli, tetapi karena spageti dan katsu yang aku maksud adalah buah dari kerja tangan-tanganmu yang lembut itu.
Kini aku meraung dalam kerinduan. Setiap malam aku selalu menyebut namamu dalam doa. Aku tak pernah tahu takdir akan membawa doaku sejauh apa. Namun aku selalu melakukannya selama perasaanku tentangmu masih bersemayam di dalam jiwa. Al-fatihah selalu aku selipkan sebagai penghiburan atas kesedihanmu. Sebagai obat atas luka yang aku berikan padamu. Sebagai penjaga dari segala keburukan dan mara bahaya yang mengancammu. Aku selalu berdoa kebaikan atas dirimu. Meskipun lagi-lagi aku tak akan pernah tahu, doa ini akan membawa takdirku sejauh apa.
Ahh, seandainya kamu tahu aku ingin sekali banyak bercerita tentang hari-hariku. Aku ingin kamu tahu aku sudah berhasil diterima S2 Teknik Fisika UGM seperti doamu untukku. Aku ingin kamu tahu aku sudah mendaftar Beasiswa LPDP gelombang 2 tahun ini. Sekarang adalah masa-masa menunggu pengumuman hasil seleksi administrasi. Aku ingin kamu tahu, aku sudah mendaftar akun LPDP sejak 2021 dan baru mendaftar beasiswa tahun ini. Aku juga ingin kamu tahu, aku sedang menulis sebuah novel tentang kebodohanku selama ini. Semoga apa yang sedang aku usahakan ini diridhai Allah. Aku diterima beasiswa LPDP dan aku bisa menerbitkan novel pertamaku.
Aku sering berandai kamu akan membaca tulisanku ini suatu saat nanti. Aku ingin kamu tahu tanpa sengaja bahwa aku masih menunggumu. Aku tetap mencintaimu. Aku ingin memastikan sekali lagi bahwa kamu memang tidak menghendakiku menjadi pendampingmu. Setelah itu aku akan menghapus segala perasaan yang telah mengubah jiwaku ini. Menyimpannya dalam memoriku sebagai saksi bahwa kamu adalah manusia baik yang diutus Tuhan menjadi perantara atas perubahan hidupku.
Kepadamu yang kini di luar jangkauanku, masihkah kita dapat kembali?
Yogyakarta, 01/08/2026
Komentar
Posting Komentar