Tak terasa sudah hari Sabtu lagi. Seminggu berlalu dengan begitu cepat tanpa terasa. Kini, setiap pekan rasanya seperti sama semua. Cepat berlalu tanpa pernah sempat memberikan waktu untuk merenungi apa yang terjadi. Maka saat ini di setiap akhir pekan aku mencoba meluangkan waktu, menulis blogku, entah dengan apa akan aku tulis, untuk merenungi apa yang telah terjadi selama satu pekan ke belakang.
Hal yang paling menonjol dari satu pekan ke belakangku kemarin adalah sebuah pertanyaan, kemanakah fokusku? Masih dalam misi pencarian makna kehidupan, aku sampai di titik di mana aku merasa selama ini fokus yang aku curahkan telah melenceng dari fitrahku sebagai manusia. Aku sibuk berlari mengelilingi lereng gunung tanpa pernah satu jengkal pun kaki ini aku langkahkan naik menuju puncak. Tidak akan pernah sampai dan hanya membuatku semakin lelah serta ketakutan.
Rasa lelah dan frustasi yang aku rasakan menjadikanku salah dalam menyusun rencana yang seharunya aku lakukan. Ketika kita lelah dalam sebuah aktivitas rasanya akan sangat sulit berkonsentrasi. Berpikir dengan jernih dari persoalan yang sedang kita hadapi dan mencari solusi. Justru sering kali kita asyik mencari penghiburan yang mengalihkan fokus utama kita dalam mencari solusi. Menjadikan persoalan yang kita hadapi tak pernah terurai dan tersolusikan tetapi justru kelelahan yang amat sangat yang akhirnya menguasai kita.
Namun sayangnya itulah yang sedang terjadi padaku. Aku telah terlempar jauh dari tujuanku di puncak gunung karena terlalu terlena berkeliling memutari lereng gunung. Aku seolah menjadi tak sadar. Aku mengira tujuanku hanyalah semu. Tak pernah ada yang namanya puncak gunung. Semua yang aku lihat hanyalah dataran rendah yang memutar. Maka rasa frustasi dan kelelahan begitu menyelimutiku.
Sampai pada satu momen aku memilih berhenti sejenak. Merenungi kelelahanku. Rasa frustasiku. Kesedihan yang selalu menyertaiku. Kegelisahan yang tak berkesudahan. Serta perasaan-perasaan tidak pernah puas akan apa yang aku kerjakan. Aku mencoba menengok kembali apa yang keliru pada cara pandangku. Aku mulai mencoba bukan hanya melihat ke depan tetapi juga ke kiri, ke kanan, ke atas, dan ke bawah. Ternyata saat cara pandangku aku ubah, titik tujuanku mulai aku temukan. Samar-samar aku mulai melihat puncak gunung yang menjadi tujuanku selama ini.
Bermula dari hal itu aku mulai banyak belajar. Buku-buku menjadi temanku. Ceramah, pidato, podcast di youtube selalu menemani makan siangku. Aku belajar bahwa puncak gunung (tujuanku) adalah menjadi hamba Tuhanku. Jalan mendaki yang meskipun melelahkan, entah mengapa memberikan sebuah ketenangan dan kedamaian. Meskipun dengan uang yang pas-pasan bahkan aku tak pernah terbayang apakah aku mampu melanjutkan pendidikan dengan uang yang aku miliki. Namun rasa puas itu seperti candu bagiku saat ini.
Dengan perlahan aku terus belajar. Pelarianku akan hilangnya tujuanku selama ini begitu teramat menyiksaku. Aku berlari mencari harta sebanyak-banyaknya, nyatanya tak aku dapati juga kekayaan itu. Aku berlari mencari cinta, nyatanya hanya ada luka dan melukai antar sesama anak manusia. Aku berlari mencari pujian manusia, nyatanya hanya rasa kecewa yang mereka berikan padaku. Aku berlari mencari jabatan mentereng untuk aku banggakan, nyatanya manusia justru sibuk ingin menjatuhkanku. Semua kesemuan itu melelahkan tetapi memang menggiurkan. Sungguh menarik hati bagi mereka yang mengalami frustasi dalam mencari tujuan sejati.
Aku belajar mengembalikan fokusku. Aku telah memilih menjadi orang yang beriman. Islam adalah agamaku. Maka sebagai orang yang beriman tentu memiliki konsekuensinya. Ketika pernyataan keimananku hanya sebatas di lisan, maka sungguh aku telah berdusta atas nama Tuhan. Aku belajar untuk menerima konsekuensi dari keimananku dengan mengembalikan tujuan dan fokusku menjadi budak dan hamba-Nya. Melepaskan segala keinginan hati untuk hanya berserah dan memilih keinginan-Nya. Belajar mengembalikan segala kendali hidupku pada-Nya. Karena tidak ada sekedip mataku yang luput dari kuasa-Nya.
"Ya Tuhanku, cukuplah bagiku kemuliaan menjadi hamba-Mu, dan cukuplah bagiku kebanggaan bahwa Engkau adalah Tuhanku. Engkau adalah sebagaimana yang aku cintai, maka jadikanlah aku sebagaimana yang Engkau cintai." - Ali bin Abi Thalib
Yogyakarta, 8 Agustus 2026
Komentar
Posting Komentar