Langsung ke konten utama

Homeless

Refleksi minggu ini aku sedang menyadari sesuatu yang selama ini rasanya tidak mungkin terjadi padaku. Entah pikiran ini muncul dari mana, aku juga tidak tahu. Tetiba saja aku mendapatkannya. Sebuah pikiran yang setelah aku renungkan dengan dalam ada benarnya juga. Pikiran yang muncul disebabkan oleh kerinduanku pada seseorang. Dari kerinduan itu aku mencoba memahami diriku sendiri. Apa yang menyebabkan rasa rindu, cinta, sayang, dan kagum pada seseorang itu tidak luntur dari diriku meskipun kami sudah tidak bersama lagi. Aku sampai pada kesimpulan aku adalah seorang homeless sejak kecil.

Ya, aku homeless. Aku tidak memiliki rumah. Rumah di sini bukanlah dalam artian rumah secara fisik bangunan. Walaupun secara fisik bangunan juga, keluargaku tidak memilikinya. Karena selama ini aku, Ibu dan Adikku menempati rumah warisan yang telah dibeli oleh kakak dari Ibuku. Singkatnya kami numpang di rumah orang. Lebih dari itu, selama ini aku menggelandang. Pindah dari rumah ke rumah mirip seperti lagu anak muda zaman sekarang. Dari rumah ke rumah ini aku lakukan hanya agar aku merasa aman. Supaya aku memiliki tempat kembali setelah lelahnya berjuang menjalani kehidupan. 

Saat usia 4 tahun Bapakku meninggal. Praktis tidak ada lagi bangunan rumah yang melindungiku dari kelemahanku. Ibarat sebuah rumah sungguhan, seorang Bapak adalah pondasi dan tembok yang membentuk bangunan rumah. Tentu pondasi bangunan dan tembok haruslah kokoh, kuat, dan tegas. Itulah yang diwariskan seorang Bapak kepada anak lelakinya. Dari rasa kokoh dan kuat itulah yang akan membentuk rasa percaya diri. Menghindarkan anak lelaki dari rasa kurang aman yang mengakibatkan kecemasan yang berlebihan. Tembok-tembok rumah membantu menghindarkan si anak dari angin kencang, ancaman binatang buas, dan sengatan hewan serangga. Artinya anak lelaki yang mendapatkan peran seorang Bapak akan dapat lebih terjaga dari pergaulan bebas. Dapat mampu mengontrol diri karena tahu bahwa di luar rumah tidak selalu kebaikan yang akan diperoleh.

Itu dari sisi Bapak yang jelas tidak pernah aku dapatkan. Bagaimana dari sisi Ibu? Jujur aku juga tidak pernah menyadarinya selama ini. Ternyata aku mengalami kehilangan sosok Ibu. Aku yang selama ini dari kecil hingga dewasa tinggal bersama Ibu merasa semua baik-baik saja. Ternyata tidak. Di minggu ini aku baru menyadari bahwa aku benar-benar telah kehilangan Ibuku secara emosional. Aku tak pernah bercerita hal-hal yang membebaniku karena takut aku akan membebaninya. Tak ada obrolan yang berarti di antara kami. Hanya obrolan sebatas perlu saja. Sebuah kehangatan yang tak pernah aku rasakan.

Hal yang paling jelas terlihat dari perilakuku karena kehilangan Ibuku adalah kemampuanku dalam membangun kepercayaan kepada orang lain. Aku memiliki gangguan dalam berhubungan sosial dengan orang lain karena sulit membangun rasa percaya pada orang lain. Aku selalu berpikir bahwa mereka yang mengenalku tak pernah benar-benar memilihku menjadi temannya atau menjadi pasangannya. Aku selalu takut bahwa pada akhirnya aku akan diabaikan. Aku juga termasuk orang yang sangat mudah sekali marah. Terhadap sesuatu yang tak sesuai dengan apa yang aku harapkan. Hal lain yang aku rasakan adalah aku sulit sekali mengekspresikan perasaan. Bahkan ketika dipuji karena kerja bagusku aku merasa bingung harus berbuat apa. Mungkin karena selama ini aku tak pernah benar-benar mendapatkan pengalaman dipuji, dikritik, dinasehati, dan dimengerti oleh Ibuku.

Aku juga baru tahu, selama ini, rasa sepi yang aku alami juga akibat dari ketiadaan rumah di masa pertumbuhanku. Setiap malam selalu aku lalui dengan perasaan sesak di dada. Merasa bahwa tidak ada yang benar-benar akan mengerti aku. Rasanya hampa sekali kehidupan ini. Semua terasa gelap. Tak ada artinya aku hidup di dunia ini. Beberpa kali telah terlintas di dalam benakku, bukankah aku akan bebas jika aku tak lagi hidup di dunia ini? Namun nyatanya Tuhan masih percaya padaku. Dia masih memberikanku kesempatan untuk terus bertumbuh. Meskipun dengan cara try and error yang tak lagi dapat dihitung jari. Tak jarang juga aku harus menyakiti orang lain. Sungguh, bukan aku bermaksud menyakiti. Namun kebodohan telah menguasai diriku. Menjadikanku buta akan setiap langkah hidup yang aku ambil akan berpengaruh tidak hanya pada diri sendiri tetapi juga pada orang lain.

Termasuk pada dia yang telah mencintaiku dengan hati tulusnya. Dia yang entah bagaimana menjadikanku merenungi kejahatanku. Dari dialah semua petualangan kembali kepada diriku sendiri dimulai. Kehilangan sosok dia sungguh mengguncang jiwaku. Meremukkan hatiku. Memporakporandakan batinku. Dan sungguh menyiksa mentalku. Dari kesakitan itulah aku menyeret tubuhku untuk belajar. Memahami pola-pola yang tidak baik yang ada pada diriku. Mengenal lagi diri sendiri yang selama ini aku pikir sudah aku kenali dengan baik. Nyatanya aku hanya mengetahui namaku sendiri. Tidak dengan sisi-sisi lain dalam diriku. Aku terasing dari diriku sendiri.

Kini, aku merasa begitu kecewa terhadap diriku sendiri. Aku terjebak pada kata seandainya dan seandainya. Seandainya aku lahir dai keluarga cemara. Seandainya saat itu Bapak tidak lupa meminum obat TBCnya. Seandainya Ibu bisa lebih kuat dalam menjalani masa-masa duka kehilangan suaminya. Seandainya Ibu lebih berani untuk melawan kehidupannya yang hancur. Seandainya aku sadar lebih cepat saat itu. Seandainya aku bisa mengetahui segala sesuatu tentang diriku. Seandainya aku tidak bodoh. Seandainya dia masih milikku. Seandainya dia mau sabar sedikit tentang aku. Seandainya oh seandainya. Sialan. Bangsat!

Aku masih mencoba mengelola penemuan baruku ini. Fakta baru yang menyadarkanku bahwa aku tidak hanya kehilangan sosok Bapak tetapi aku juga kehilangan sosok Ibu. Aku adalah seorang gelandangan. Aku si fakir jiwa. Aku masih terus memilih untuk berjuang. Aku tak ingin menjadi pecundang. Aku bukanlah orang yang mudah menyerah. Hampir 30 tahun aku menjalani kehidupan dengan luka-luka yang menghiasi jiwa, batin, dan mentalku dan aku masih berdiri kokoh. Dengan bantuan Tuhanku aku mampu terus bertahan dan bertahan dari setiap gempuran kehidupan. Aku akan lawan! Aku memilih melawan! Akan aku buang mental korban itu dalam diriku. Aku akan bertanggungjawab atas diriku sendiri. Aku akan kembali pada Tuhanku dengan kebanggaan, bahwa aku tidak menyerah atas kehidupan yang Dia berikan.

Namun, setelah semua kekejaman yang aku berikan pada dia -orang terkahir yang mencintaiku dengan tulus yang menjadikanku sadar akan hidupku yang berantakan- apakah gelandangan ini masih layak mendapatkan cinta?

Yogyakarta, 23 Agustus 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Progressive Reading Project

October 27, 2025 Book Title: The Curse of the Mummy Author: Joyce Hannam Year of Publication:  This book tells us about Tariq’s diary book. He accompanied Mr. Carter to find the tomb of Tutankhamun in Egypt. Tutankhamun had been a king when he was nine years old. Tariq also told that in Egyptian culture the tomb is very important. Mr. Carter had been searching Tutankhamun’s tomb five year’s along. He only had one more year to find Tutankhamun’s tomb. So, he should hurry for it. He hired a little yellow bird to help them find a Tutankhamun's tomb. Tariq was not believe that a bird can help them to find the tomb. Comment: The title of this book is very interesting because it shows adventures vibes. November 2, 2025 Suddenly Karim, Tariq's friend who help Mr. Carter and Tariq in this mission, said he find a new clue. He find a step in the sand that them dig together. Karim and Tariq tell it to Mr. Carter Immediately. Then they are very happy. Mr. Carter give them an order to keep ...

Terlalu Jauh

Sulit sekali rasanya mendeskripsikan apa yang sedang aku rasakan. Kecenderungan untuk terus merasa sensitif, mudah marah, murung berhari-hari, sulit berkomunikasi, senang menyendiri, dan kesulitan untuk tidur. Perasaan yang semakin hari semakin menguasai diri. Sulit menghindar apalagi meninggalkan. Di mana letak kesalahan diri ini? Mencoba menelusuri setiap persimpangan. Mencoba segala hal dari kebaikan hingga keburukan. Nyatanya sulit sekali untuk menemukan jawaban. Seolah diri ini dibuat bingung dengan keadaan. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang salah dalam diri ini? Sudah cukup lelah diri ini untuk terus mencari. Keputusasaan seolah telah menanti, melambai, dan mulai menghampiri. Pagi ini, tanpa sengaja terlintas dalam pikiranku untuk menonton podcast Ust. Felix Siauw dengan Remond Chin. Podcast yang membahas mulai dari pentingnya nalar berpikir dalam beragama, jodoh, hingga membahas persoalan pemimpin. Menelusuri detik demi detik dan cukup banyak hal baru yang diri ini peroleh. ...

Kedukaan Atau Apa Pun Namanya Adalah Pembelajaran Yang Mahal

Coba berhenti sejenak. Menengok ke belakang. Kemudian tanyakan pada diri sendiri. Kapan terakhir kali merasa sedih, kecewa, galau, susah, gundah, atau pun duka? Momen apa yang telah terlalui sampai perasaan tidak nyaman tersebut muncul di permukaan? Cobalah jawab. Resapi setiap momen dari jawaban yang keluar. Kemudian hati akan tersadar bahwa kedukaan atau apa pun namanya adalah pembelajaran yang mahal. Pembelajaran dengan rasa sakit, biasa timbul dari kesalahan. Kesalahan diri sendiri. Inilah yang utama. Mungkin karena terlalu sombong. Mungkin kurangnya bersyukur. Mungkin merasa tidak ada yang dapat mengalahkanku. Mungkin merasa aku adalah pusat dunia dan tata surya. Kesalahan yang menjerumuskan. Ibarat berjalan di jalan berlumut dengan sandal swallow, terpeleset. Jatuh. Tertumbuk benda tumpul. Memar. Akhirnya sulit untuk berjalan beberapa waktu. Namun setelahnya, akan jauh lebih berhati-hati. Akan lebih bijak. Akan lebih mawas diri. Seorang teman lama berkata dalam sebuah cuitan. Unt...