Langsung ke konten utama

Aku Bukan Tak Mencintaimu, Aku Hanya Bodoh

Hubungan terakhirku adalah sebuah pembelajaran paling berharga tentang mencintai. Dalam bukunya, Fahrudin Faiz, seorang Doktor Filsafat di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, berkata, "Belajarlah mencintai dengan tulus meskipun itu cinta duniawi. Jika kamu berhasil maka kamu akan bahagia. Seandainya kamu gagal maka kamu akan mengambil hikmahnya." Salah satu kalimat yang menjadi teman refleksiku setelah kehilangan terbesarku.

Dari kegagalan cinta ke sekian kalinya itu, aku merasa bukan cintanya yang salah namun aku yang keliru. Mencintai adalah memberi. Memprioritaskan yang dicintai dan memastikan hidup sang kekasih selalu tercukupi. Tercukupi secara fisik maupun emosi. Sayangnya yang aku lakukan adalah berkebalikan. Aku selalu merasa kurang. Aku selalu menuntut pasangan. Seringnya aku mengabaikan perasaan pasanganku. Maunya hanya aku yang dimengerti.

Berawal dari itu, terhitung sudah tiga kali aku pergi ke psikolog untuk berkonsultasi tentang diriku. Pertama, aku mendapati diriku memiliki pola-pola yang kurang baik. Pola kurang baik ini disebabkan karena aku yang belum matang dalam mengelola emosiku. Kedua, aku mendapati diriku dalam kondisi gejala depresi yang dibuktikan dengan hasil analisis psikologku yang mengatakan aku memiliki kecenderungan untuk menyendiri, menjadi people pleasure karena takut ditolak, dan perfeksionisme. Ketiga, aku baru tahu ternyata ada yang salah dalam caraku memaknai kejadian-kejadian masa lalu sehingga menjadikan traumaku begitu banyak dan menumpuk.

Singkat kata, aku belum selesai dengan diriku. Dari sini juga aku baru tahu makna "selesai dengan diri sendiri". Bukan hanya sebatas dari sisi ekonomi namun justru hal terpenting adalah dari sisi emosi. Kemampuan mengelola diri akan berbanding lurus dengan kemampuan mencintai. Ketika diri sudah merasa cukup maka secara otomatis diri ini akan terdorong untuk memberi. Memberi inilah kunci dari mencintai secara tulus. Sayangnya aku telat untuk menyadari.

Kegagalanku dalam percintaan kali ini seperti titik balik dalam hidupku. Pertama, aku menjadi lebih rajin belajar tentang diriku. Mengenali diriku sendiri dengan segala hal baik dan buruknya diri. Dalam proses mengenal diri kembali, aku menyadari sesuatu yaitu aku memandang dunia ini dengan ketakutan. Efek dari traumaku ditinggal seorang Ayah yang seharusnya melindungi. Aku seperti sendirian berjalan di dunia ini. Belajar dari kesalahan demi kesalahan tanpa pernah sekali pun diapresiasi. Itulah yang terjadi padaku dalam kasus ini. Aku belajar setelah aku berbuat kesalahan. 

Kedua, hasil belajarku tentang diriku sendiri sedikit banyak sudah mulai membuahkan hasil. Aku mencoba untuk berani dalam kehidupan ini. Sebagaimana sebuah pesan dari Albert Camus, salah satu filsuf favoritku, Ia berkata,"Pada akhirnya keberanian dalam menjalani hidup jauh lebih besar dari pada keberanian untuk bunuh diri." Setelah aku renungi, memang begitu nyatanya. Dunia ini penuh dengan ketidakpastian. Hanya orang-orang beranilah yang mampu mengarungi kehidupan ini. Sebagaimana aku mencoba untuk berani.

Keberanian itu terbukti dengan aku yang telah mampu berhenti dari kecanduanku dengan rokok dan vape. Meskipun baru akan berjalan satu bulan tepat di tanggal 4 Juli 2026 yang akan datang, aku tetap merasa bangga. Sedari awal aku memang tidak pernah benar-benar menikmati rokok. Rokok hanyalah pelarianku dari rasa takutku dalam menghadapi dunia. Bukan pilihan karena kesadaranku. Rokok adalah obat 'pereda nyeri' yang cukup ampuh bagiku. Sebelum akhirnya aku memilih untuk melawan rasa perih itu sekarang.

Ketiga, aku mulai untuk menata kembali cita-citaku. Aku sadar bahwa yang aku butuhkan adalah pendidikan. Memperbaiki pola pikir yang keliru karena tidak pernah ada yang mengarahkan. Aku ingin belajar karena aku merasa di situlah kunci keberhasilanku mengalahkan diriku. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mencoba mendaftar menjadi mahasiswa S2 Teknik Fisika UGM.

Awalnya, aku merasa bingung harus mulai dari mana. Aku banyak bertanya pada temanku yang sudah melalui fase ini. Kemudian aku memberanikan diri untuk memulai. Aku memulai dengan mengikuti tes TOEFL ITP yang baru pertama kali aku ikuti dan berhasil mendapatkan skor 533. Gila rasanya. Aku bangga sekali dengan diriku. Kemudian aku melanjutkan dengan mengikuti tes TPA Bappenas sebagai salah satu syarat juga. Jujur, aku kelimpungan saat mengerjakan tes ini. Rasanya fokusku hilang. Aku lebih banyak menjawab asal dari pada aku pikir matang-matang. Namun alhamdulillah, skor yang aku peroleh adalah 497,28. Cukup untuk mendaftar di S2 Teknik Fisika UGM yang mensyaratkan skor TPA adalah 450. Tinggal satu lagi tes yang harus aku taklukkan yaitu tes substantif. Semoga Allah memudahkan.

Benar sekali apa kata Pak Faiz. Cinta jika berhasil menjadi bahagia. Namun jika gagal memberikan hikmah yang tak terhingga. Tinggal bagaimana kita merespon kondisi yang kita hadapi. Berbekal keberanian dan semangat untuk terus belajar, semua pasti akan dipertemukan dengan jalannya. Selalulah meminta kepada Allah SWT untuk diberikan petunjuk jalan.

Akhirnya dalam tulisan ini aku ingin menyampaikan ucapan terima kasih padamu kekasihku. Perpisahan denganmu mengantarkanku pada diriku. Kehadiranmu menentramkan. Kepergianmu memberikan pembelajaran. Bahkan, kini setelah kepergianmu, justru aku jatuh cinta padamu. Ahh, seandainya kamu tahu, dalam malam-malamku aku selalu mendoakanmu. Mengirimkan al-fatihah untukmu. Untuk kebahagiaanmu. Untuk kedamaianmu. Untuk kesembuhan hatimu dari luka yang aku berikan padamu.

Entah doaku yang menjadikanku tetap cinta padamu atau cintaku yang menjadikanku selalu mendoakanmu. Namun apapun itu, selama rasa cinta ini masih Allah simpan dalam hatiku, maka lisan ini tak akan pernah sepi dari mendoakanmu. Jika di suatu hari nanti kau telah mengumumkan diri dengan pria lain, maka disaat itu akan aku tutup mulut ini dari mendoakanmu dan akan aku tutup rapat hatiku sampai Allah mencabut namamu dari hatiku.

Semoga Allah memampukan aku menjadi qawwam untukmu dan aku berharap Allah menggerakkan hatimu tanpa sengaja untuk membaca tulisan ini. Karena saat ini aku memilih mencintaimu dalam diam, hingga saatnya aku menjadi qawwam. Dan atas izin Allah aku akan meminangmu dengan sebaik-baik cara.

Yogyakarta, 27 Juni 2026


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Progressive Reading Project

October 27, 2025 Book Title: The Curse of the Mummy Author: Joyce Hannam Year of Publication:  This book tells us about Tariq’s diary book. He accompanied Mr. Carter to find the tomb of Tutankhamun in Egypt. Tutankhamun had been a king when he was nine years old. Tariq also told that in Egyptian culture the tomb is very important. Mr. Carter had been searching Tutankhamun’s tomb five year’s along. He only had one more year to find Tutankhamun’s tomb. So, he should hurry for it. He hired a little yellow bird to help them find a Tutankhamun's tomb. Tariq was not believe that a bird can help them to find the tomb. Comment: The title of this book is very interesting because it shows adventures vibes. November 2, 2025 Suddenly Karim, Tariq's friend who help Mr. Carter and Tariq in this mission, said he find a new clue. He find a step in the sand that them dig together. Karim and Tariq tell it to Mr. Carter Immediately. Then they are very happy. Mr. Carter give them an order to keep ...

Terlalu Jauh

Sulit sekali rasanya mendeskripsikan apa yang sedang aku rasakan. Kecenderungan untuk terus merasa sensitif, mudah marah, murung berhari-hari, sulit berkomunikasi, senang menyendiri, dan kesulitan untuk tidur. Perasaan yang semakin hari semakin menguasai diri. Sulit menghindar apalagi meninggalkan. Di mana letak kesalahan diri ini? Mencoba menelusuri setiap persimpangan. Mencoba segala hal dari kebaikan hingga keburukan. Nyatanya sulit sekali untuk menemukan jawaban. Seolah diri ini dibuat bingung dengan keadaan. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang salah dalam diri ini? Sudah cukup lelah diri ini untuk terus mencari. Keputusasaan seolah telah menanti, melambai, dan mulai menghampiri. Pagi ini, tanpa sengaja terlintas dalam pikiranku untuk menonton podcast Ust. Felix Siauw dengan Remond Chin. Podcast yang membahas mulai dari pentingnya nalar berpikir dalam beragama, jodoh, hingga membahas persoalan pemimpin. Menelusuri detik demi detik dan cukup banyak hal baru yang diri ini peroleh. ...

Kedukaan Atau Apa Pun Namanya Adalah Pembelajaran Yang Mahal

Coba berhenti sejenak. Menengok ke belakang. Kemudian tanyakan pada diri sendiri. Kapan terakhir kali merasa sedih, kecewa, galau, susah, gundah, atau pun duka? Momen apa yang telah terlalui sampai perasaan tidak nyaman tersebut muncul di permukaan? Cobalah jawab. Resapi setiap momen dari jawaban yang keluar. Kemudian hati akan tersadar bahwa kedukaan atau apa pun namanya adalah pembelajaran yang mahal. Pembelajaran dengan rasa sakit, biasa timbul dari kesalahan. Kesalahan diri sendiri. Inilah yang utama. Mungkin karena terlalu sombong. Mungkin kurangnya bersyukur. Mungkin merasa tidak ada yang dapat mengalahkanku. Mungkin merasa aku adalah pusat dunia dan tata surya. Kesalahan yang menjerumuskan. Ibarat berjalan di jalan berlumut dengan sandal swallow, terpeleset. Jatuh. Tertumbuk benda tumpul. Memar. Akhirnya sulit untuk berjalan beberapa waktu. Namun setelahnya, akan jauh lebih berhati-hati. Akan lebih bijak. Akan lebih mawas diri. Seorang teman lama berkata dalam sebuah cuitan. Unt...