Langsung ke konten utama

Terima Kasih Tuhan

Sulit rasanya untuk menjelaskan semuanya. Tentang segala hal yang tengah aku rasakan. Duniaku berubah dengan sekejap mata. Direnggut dan dilemparkannya diriku ke sebuah tempat asing. Sebuah daerah atau kawasan baru yang disebut Kabupaten A3.

Tak pernah terbesit dalam benakku akan sejauh ini perbedaan yang aku hadapi. Mulai dari mayoritas dalam hal kepercayaan menjadi minoritas. Berlanjut perihal makanan yang terbiasa penuh dengan rasa saat lidah mengecap berubah hanya sekadar micin yang dirasa. Soal akses mobilisasi yang mana semuanya terasa jauh dan melelahkan. Bahkan di sini aku baru merasa kegiatan mandi adalah hal yang teramat istimewa.

Bukan aku yang mengintervensi namun akulah yang diintervensi. 'Memerdekakan' diri dari belenggu keserbabaruan ini saja aku belum sepenuhnya sanggup. Bagaimana mungkin aku dapat memberikan pengaruhku kepada kondisi masyarakat di sini? Masih terlalu jauh panggang dari pada api.

Seringnya aku jadi melamun sendiri. Membandingkan kondisiku dengan kondisi rekanku di belahan Indonesia yang lain. Terlihat begitu hijau rumput mereka. Semakin menjadi parah ketika aku mulai berkhayal dan berimajinasi seandainya begini, seandainya begitu. Tetap saja itu tidak dapat merubah apapun yang sudah terjadi. Sia-sia.

Memang seharusnya aku bisa lebih cepat beradaptasi. Setidaknya itu yang diharapkan kepadaku. Waktu 3 bulan yang diberikan dirasa cukup bagi kami untuk bisa berbaur dan sepenuhnya 'menjadi' masyarakat lokal. Namun bagiku semua itu meleset. Bidikan yang seharusnya tepat sasaran nyatanya hanya baru menempuh separo jalan. Belum lagi sampai ke tujuan yang diharapkan: 'menjadi' masyarakat lokal.

Harapan yang dibebankan kepada kami semakin hari semakin terasa berat bagiku. Sebagai agen perubahan, kami diharapkan mampu memberikan warna baru bagi pengembangan masyarakat. Tidak tanggung-tanggung visi besar yang diusung adalah perubahan perilaku entitas lokal dalam menyikapi dinamika pendidikan. Mulai dari tingkat paling dekat yaitu orang tua, guru, kepala sekolah, masyarakat, dan yang terakhir yaitu pemerintah. Sayangnya kondisiku saat ini terasa begitu musykil. Bagaikan palu milik Thor. Terlihat seolah dapat diangkat dengan mudah namun nyatanya itu sesuatu yang sangat berat.

Bukan berarti aku tanpa usaha. Awal aku mendaratkan kaki di bumi A3 ini aku mencoba untuk datang ke sekolah lebih awal. Memberikan contoh baik kepada para pengajar di sini yang baru muncul setelah matahari meninggi. Aku juga mencoba membiasakan diri dengan makanan yang dimasakkan mama piaraku. Meskipun kebanyakan dari masakan yang dibuat beliau hanya memiliki satu rasa yang dominan yaitu micin. Dalam hal mandi pun aku mencoba berhemat sekali dengan air. Kecuali dalam dua kondisi: aku mandi di kali atau aku sedang berada di basecamp. Selebihnya aku gunakan dengan hati-hati.

Dalam bermasyarakat aku merasa sulit menyatu. Budaya yang berbeda dengan kondisi super minoritas yang aku alami membuat aku kesulitan mencari kesamaan di antara kami. Kesamaan yang tidak muncul itu yang menjadikan aku sulit untuk menemukan seorang teman yang dapat mengerti dan memahami kesulitan yang aku hadapi. Berulang kali aku mencoba untuk berjalan sore dan menyapa warga. Namun sedikit sekali obrolan yang yang tercipta. Seringnya aku hanya bermain dengan anak-anak entah bermain sepak bola atau pun hanya sekadar berjalan sore menikmati suasana.

Tidak tanggung-tanggung dalam suasana Natal aku yang seorang muslim mencoba untuk menyertai. Berharap ada sedikit celah yang dapat aku temukan untuk kemudian aku rangkai menjadi tenunan perekat supaya aku dapat menyatu dengan masyarakat. Lagi dan lagi hanya kebuntuan yang aku temui. Entah dari sisi mana lagi aku harus bergulat dengan semua ini supaya aku mampu 'menjadi' entitas lokal A3.

Tidak ada lagi yang dapat aku harapkan. Segala usaha telah coba aku lakukan. Meskipun hasil jauh dari kata keberhasilan. Kini aku hanya mencoba untuk bertahan dengan sesekali tetap aku coba untuk berperan mengambil bagian. Apa jangan-jangan aku yang masih kurang maksimal? Entahlah, cita-citaku kali ini begitu banyak pembelajaran. Terima kasih Tuhan, jika memang bukan aku yang memberikan pembelajaran setidaknya aku banyak belajar.

Maybrat, 11 Januari 2025

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Progressive Reading Project

October 27, 2025 Book Title: The Curse of the Mummy Author: Joyce Hannam Year of Publication:  This book tells us about Tariq’s diary book. He accompanied Mr. Carter to find the tomb of Tutankhamun in Egypt. Tutankhamun had been a king when he was nine years old. Tariq also told that in Egyptian culture the tomb is very important. Mr. Carter had been searching Tutankhamun’s tomb five year’s along. He only had one more year to find Tutankhamun’s tomb. So, he should hurry for it. He hired a little yellow bird to help them find a Tutankhamun's tomb. Tariq was not believe that a bird can help them to find the tomb. Comment: The title of this book is very interesting because it shows adventures vibes. November 2, 2025 Suddenly Karim, Tariq's friend who help Mr. Carter and Tariq in this mission, said he find a new clue. He find a step in the sand that them dig together. Karim and Tariq tell it to Mr. Carter Immediately. Then they are very happy. Mr. Carter give them an order to keep ...

Terlalu Jauh

Sulit sekali rasanya mendeskripsikan apa yang sedang aku rasakan. Kecenderungan untuk terus merasa sensitif, mudah marah, murung berhari-hari, sulit berkomunikasi, senang menyendiri, dan kesulitan untuk tidur. Perasaan yang semakin hari semakin menguasai diri. Sulit menghindar apalagi meninggalkan. Di mana letak kesalahan diri ini? Mencoba menelusuri setiap persimpangan. Mencoba segala hal dari kebaikan hingga keburukan. Nyatanya sulit sekali untuk menemukan jawaban. Seolah diri ini dibuat bingung dengan keadaan. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang salah dalam diri ini? Sudah cukup lelah diri ini untuk terus mencari. Keputusasaan seolah telah menanti, melambai, dan mulai menghampiri. Pagi ini, tanpa sengaja terlintas dalam pikiranku untuk menonton podcast Ust. Felix Siauw dengan Remond Chin. Podcast yang membahas mulai dari pentingnya nalar berpikir dalam beragama, jodoh, hingga membahas persoalan pemimpin. Menelusuri detik demi detik dan cukup banyak hal baru yang diri ini peroleh. ...

I Felt Better When I Have Done Write Down My Feelings

I felt better when I have done write down my feelings. Ungkapan itu tidak berlebihan rasanya. Ungkapan yang entah muncul dari mana. Ungkapan yang betul-betul menggambarkan perasaanku saat ini. Hidupku terlalu lelah untuk aku ceritakan melalui kata-kata. Hanya melalui frasa aku dapat bercerita karena rasanya tidak ada yang benar-benar memahami apa yang aku rasa. Tidak ada pula yang dapat aku percaya. Bercerita bukan perkara mudah bagiku yang sejak kecil terbiasa memendam segalanya. Bersyukurnya aku Tuhan telah menciptakan tulisan. Memberikan aku kemampuan membaca dan mengeja serta menulis untuk menumpahkan segala rasa. Oh, sungguh hanya ini yang bisa aku lakukan. Namun kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Mungkin ini memang waktu yang tepat untukku yang diberikan Tuhan kepadaku untuk menyadari semuanya. Tentang segala rasa yang tersimpan harus aku tuangkan dalam tulisan. Aku belum memahami korelasi antara pengalaman masa laluku dengan kondisiku saat ini. Dulu aku begitu menggebu...