Pagi itu ketika semua orang tengah tertidur lelap, Ia terbangun dan tergerak untuk menghadap Sang Khalik. Melempar selimut yang menghangatkan tubuhnya ditengah malam, melepas peluk hangat istri disampingnya, dan tak menghiraukan berjubel pesan singkat di ponselnya. Ia melangkah mantap menuju kamar mandi yang terletak disudut kamar tidurnya. Dengan perlahan Ia menyalakan kran air. Dimulai dengan membasuh kedua tangan sambil mengucap ‘bismillahirahmanirahim’ Ia mulai berkumur. Membasuh muka, membasuh tangan dan tak melewatkan siku. Mengusap rambut dan kedua telinga sebelum akhirnya ditutup dengan mencuci kaki hingga batas mata kaki. Setelah selesai, tak lupa Ia berdoa dengan doa yang diawali dengan syahadat dan diakhiri dengan ‘waj’alni min ibadikashalihiin’.
Termenung. Ia mendadak termenung. Bingung. Ia mendadak bingung. Matanya mulai panas. Air matanya mulai di ujung pelupuk. Tak terbendung. Tak tertahan. Dan hal itu pun terjadi. Air mata jatuh bagaikan air hujan yang membasahi bumi. Air mata yang membasahi hati. Begitu berat Ia menangis. Sesenggukan. Pilu, sungguh pilu apa yang coba Ia tahan akhirnya semua terbuka. Menganga seluas padang pasir di gurun sahara. Terlihat sejelas matahari di ufuk timur yang menyilaukan dengan cahayanya di pagi hari. Terdengar keras bagaikan guntur ditengah kilatan petir yang selalu datang terlebih dahulu. Terluka seperih luka terkelupasnya kulit jari dipinggiran kuku. Ia yang malang, Ia yang tak tahu harus berbuat apa. Hanya doa.
Dihamparkan sajadah peninggalan orang tuanya yang sudah tua. Berdebu, entah sudah berapa lama sajadah itu hanya tergeletak di atas lemari jati di seberang tempat tidurnya. Tak tersentuh barang sekalipun semenjak acara resepsi pernikahannya yang sudah hampir lima tahun. Kemana saja Ia selama itu? Sampai Tuhan pun Ia lupakan. Sampai berdoa pun tidak sempat. Sampai bersyukur pun tidak pernah. Lupakakah Ia nasihat orang tuanya yang mengatakan,”orang paling sombong adalah orang yang tak pernah berdoa”.
Dua puluh dua Mei dua ribu tiga belas. Ia berjalan menyusuri sepanjang jalan trotoar di pusat kota Jakarta. Hiruk pikuk kendaraan bermotor saling bersautan. Knalpot saling menyapa ramah. Bunyi klakson sudah seperti musik orkestra dari saxophone yang dimainkan dengan merdu. Teriakan, makian, dan umpatan dari orang-orang yang berebut jalan mirip sekali dengan paduan suara, syahdu. Ia berjalan dengan tergesa dan tak menyadari bahwa di arah berlawanan sedang berjalan anak kecil gelandangan yang terkagum oleh bangunan tinggi perkotaan, tak memperhatikan jalan. Bruggg, mereka berdua pun bertabrakan.
Tanpa berpikir panjang,”Kalo jalan itu lihat-lihat dong, dasar tikus got!” teriaknya sambil berlalu. Tanpa sekalipun Ia menoleh apalagi menanyakan kondisi si anak Ia melanjutkan perjalanan.
Panas yang menyerang di tengah hari itu membuatnya menyerah. Ia melipir, berhenti sejenak di toko swalayan berwarna oren bergambarkan hewan penyuka madu. Memasuki toko, Ia langsung menuju chiller tempat berderet minuman di pajang. Banyak sekali pilihan yang ditawarkan. Yang menjadikan lebih sulit dari soal ujian pilihan ganda. Namun tidak saat itu. Ia terlanjur haus dan langsung mengambil sebotol air mineral dingin bergambar gunung dengan nama produk berbahasa Prancis. Menuju kasir, Ia mulai merogoh celananya. Kaget, panik, mendadak khawatir dan mulai berpikir.”Dompetku, dimana dompetku?”, pikirnya dalam hati.
”Pasti tikus got tadi yang mencopetku!”, tuduhnya dengan sangat yakin. Akhirnya Ia coba merogoh kantong celananya yang lain dan mendapati uang sepuluh ribu rupiah untuk membayar minumannya.
”Aku harus mencarinya, harus! Dan bakal aku seret si tikus got itu ke kantor polisi, mampus!”.
Ia berjalan kembali menyusuri jalan yang Ia lalui tadi. Mencoba mencari ‘si tikus got’ yang Ia tuduh telah mencuri dompetnya. Ia yakin pasti, bahwa anak itu pelakunya. Ternyata mencari ‘si tikus got’ tak semudah yang Ia pikirkan. Banyak sekali anak-anak seusianya yang berkeliaran disepanjang jalan kota Jakarta yang katanya kota metropolitan. Entah dari sudut mana kota ini dapat disebut metropolitan. Apakah hanya berdasarkan banyaknya bangunan tinggi menjulang penantang Tuhan? Sampai-sampai penghuninya tak dapat menyaksikan tangisan gelandangan disisi paling gelap kota itu?. Apanya yang metropolitan ketika banyak anak putus sekolah dan terjadi kesenjangan sosial? Ah, memang dunia hanyalah panggung sandiwara.
Hampir tiga puluh menit Ia mencari. Hampir jugalah Ia menyerah dan pasrah. Namun tiba-tiba sekelebat anak kecil terlihat dikejauhan. Energi yang semula sudah habis dengan cepat terisi penuh kembali. Dengan tersungut-sungut dan muka merah padam Ia berjalan cepat menuju anak gelandangan yang telah Ia gelari sebagai ‘si tikus got’. Tanpa babibubebo tangannya yang kekar mendarat tepat di pipi si bocah. Plakkkk! Telak, setelak pukulan Mike Tysson kepada lawannya yang menjadikannya menang K.O. Si bocah yang kaget, jatuh tersungkur ke tanah dengan keras. Hampir saja Ia pingsan jika bukan karena matahari yang terlalu panas dan akhirnya menjaga kesadarannya. Tanpa Ia sadari, ada yang menetes. Bukan keringat, karena jelas bukan bau apek yang Ia cium tapi bau amis. Bukan berwarna bening tapi jelas itu berwarna merah. Darah, mengucur dari hidungnya. Si bocah ketakukan, badannya menggigil penuh kengerian. Perasaan senang yang baru saja Ia rasakan musnah semua, tergantikan oleh kengerian yang luar biasa. Perasaan senang karena akhirnya setelah menahan lapar dari pagi hari kemarin dapat terganjal dengan sepotong roti pemberian seorang dermawan yang tengah melintas dijalan. Perasaan senang karena akhirnya giginya dapat menguyah lagi makanan. Perasaan senang karena akhirnya asam lambungnya dapat melumat sesuatu selain perutnya sendiri. Tetapi sekali lagi semua kesenangan itu bubar, buyar, hancur oleh tangan seseorang yang tak Ia kenal dan tanpa babibubebo langsung menghajarnya.
“Kamu kan yang mencopet dompetku?!”, teriaknya tanpa memberikan kesempetan si bocah untuk membela.
“Ayo ikut aku! Bocah kayak kamu pantasnya di penjara!” sambil dengan kasar menarik tangan si bocah.
Dengan merengek,”Jangan om, jangan. Saya tidak tahu apa-apa”.
Tanpa peduli teriakan, tangisan, dan rengekan si bocah Ia tetap menyeretnya disepanjang jalan menuju kantor polisi yang tak terlalu jauh dari tempatnya sekarang. Dan begitulah, teriakan itu tak henti-hentinya terdengar sepanjang menuju kantor polisi. Sesampainya di kantor polisi, Ia segera menyerahkan si bocah untuk dipenjara dengan tuduhan pencopetan.
Dua puluh tiga Mei dua ribu tiga belas. Seseorang mengetuk pintu rumahnya pukul delapan pagi saat Ia sedang asyik menikmati sajian berita kriminal di minggu pagi. Ia berjalan menuju pintu yang semakin lama ketukan pintu semakin keras dan kini bertambah dengan lantunan salam,”Assalamualaikum”.
Terdengar salam itu dan dijawabnya,”waalaikumusalam” dengan muka menahan jengkel.
Siapa yang minggu pagi begini sudah bertamu, gerutunya. Krekkk, terbukalah pintunya. Ditemuinya sesosok laki-laki hampir setinggi dengannya. Menggunakan kacamata dan stelan flanel berwarna abu-hitam dan terlihat rapi.
“Mohon maaf mengganggu pagi bapak, saya Yanuar”, Si pemuda berkata dengan senyum yang ramah.
Tanpa membuang waktu si pemuda menjelaskan duduk perkara mengapa Ia di minggu pagi sudah bertamu ke rumah si tuan rumah. Ternyata, dua puluh dua Mei dua ribu tiga belas, si pemudalah yang menemukan dompet si tuan rumah. Ia menceritakan bahwa si tuan rumah tidak sadar jikalau dompetnya terjatuh saat hendak turun dari bus. Si pemuda yang melihat dompet terjatuh lantas mengambilnya dan hendak memberikannya langsung. Namun apa mau dikata, si tuan rumah sudah terlanjur berjalan jauh terburu-buru. Karena kesibukan di hari itu menjadikan si pemuda belum sempat mengantarkan dompetnya langsung di hari itu juga. Barulah di minggu pagi ini Ia dapat mengantarkannya secara langsung.
Si pemuda pun mengakhiri ceritanya dengan berkata,”mohon kiranya untuk dicek terlebih dahulu, takutnya ada hal yang tidak diinginkan”.
“Pas, lengkap, dan utuh,” jawab si tuan rumah dengan mata berkaca lalu menangis karena dengan mendadak Ia jadi teringat dengan si bocah gelandangan yang telah Ia beri gelar ‘Si tikus got’.
Pemuda itu pamit. Si tuan rumah pun juga ikut pamit. Pamit dengan istrinya dan berkata hendak ke kantor polisi. Menemui si bocah. Hendak mengeluarkannya dari tuduhan yang telah Ia berikan dan mungkin juga akan meminta maaf. Sesampainya di kantor polisi, Ia bertanya kepada polisi yang berjaga dan menanyakan tentang si bocah. Polisi hanya menjawab singkat, si bocah sudah dilepasakan, karena tidak ada bukti kuat. Ketika ditanya dimana si bocah sekarang, polisi hanya menggeleng tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Seketika itu juga Ia menghambur keluar kantor polisi dan berlari menuju jalanan tempat Ia memukul si bocah malang itu. Nihil. Kemanapun kaki melangkah tak pernah lagi Ia jumpai si bocah malang itu. Dan akhirnya Ia pun lelah, Ia menyerah dengan penyesalan mendalam. Menangis di tepi jalan, sesenggukan.
Suara adzan maghrib pun menggema perlahan. Memanggil jiwa-jiwa yang berserah kepada Tuhannya. Menguatkan langkah-langkah pejuang kehidupan. Membasuh peluh jiwa yang mengoyak raga. Panggilan Tuhan yang sering kali diabaikan. Walaupun jelas di dalamnya terdapat janji kemenangan, janji ketenangan, dan janji kasih sayang. Seseorang berjalan untuk memenuhi panggilan, saat Ia masih terus menangis meratapi kesalahan.
Tiba-tiba pundaknya disentuh oleh orang itu,”mari mas, kita ke masjid, sholat berjamaah”.
Duarrrrr! Semakin pecahlah tangisnya. Dengan perlahan Ia bangkit berdiri, berjalan gontai sambil terus menangis. Itulah saat bersejarah, semenjak terakhir kali Ia membasuh anggota tubuhnya dengan air wudhu lima tahun yang lalu saat masih ada orang tua yang selalu mengingatkannya. Itulah saat yang istimewa, saat jiwa-jiwa yang kering kembali menemui kesuburan. Itulah saat yang terindah, saat seorang hamba kembali berlutut bersujud menghadap Dzat yang menciptakannya. Kerinduan itu telah tuntas, kerinduan Dzat akan hambanya. Kerinduan Dzat yang mencintai hambanya melebihi cinta hamba-Nya terhadap-Nya. Kerinduan Dzat yang menjadikannya telah bertobat menyadari kerasnya hati yang mengantarkannya kepada dosa.
Yogyakarta, 8 Desember 2020
MIM Ahmad
Komentar
Posting Komentar