Langsung ke konten utama

Lalu Untuk Apa Kau Datang?

Sejenak aku merehatkan diri dari kesibukkan yang tak kunjung mati. Malam ini dengan diiringi rintikan rindu langit kepada bumi, hujan.
.
.
Aku pilih judul postingan ini karena aku benar-benar menanyakan, untuk apa kamu datang? Aku jadi ingin memutar kaset lama yang menceritakan awal perjumpaan kita. Tahun lalu, tepatnya bulan Oktober 2018, ditengah suasana bahagia para sarjana yang berhasil mengenakan toga dan jubah tanda kelulusan, aku dipertemukan olehmu. Jujur sedari awal, memang aku sudah menaruh perhatian padamu, namun hanya sebatas ketertarikan seorang lelaki pada semua wanita yang mungkin dianggapnya cantik, tidak lebih. Hambar, aku tak merasakan apapun selain, ya baik, kita profesional, kita dapat tugas menjadi MC dan selesai itu saja. Awal perkenalan pun tak terlalu istimewa, bahkan setelah hampir 5 bulan, tepatnya malam ini, aku tak ingat apa kata pertama yang aku ucapkan kepadamu. Aku hanya ingat waktu itu, ketika kamu memintaku untuk mengingatkanmu supaya kamu tidak terlambat. Kamu berpesan,"Imam nanti tolong chat aku ya, biar aku ndak telat". Dan sejauh ingatanku, aku hanya menjawab singkat,"Oke". Ah, susah betul jadi orang pendiam. Tak memiliki selera humor tinggi, tak bisa melawak dan terkesan kaku. Ah, aku tak tau, padahal sewaktu kecil aku paling pandai untuk mencari perhatian dan kini aku selalu terkesan pendiam pada orang-orang baru disekitarku. Andaikan kalian tau, aku hanya butuh pematik, aku hanya butuh katalisator untuk bisa menjadi larutan homogen, atau aku hanya perlu penghangat untuk mencairkan diamku dengan canda dan tawaku. Terkadang aku merasa, ah malang sekali hidupku.
.
.
Sesuai dengan pesannya sebelum sore itu dia pamit pergi meninggalkanku untuk pulang, aku mengirimkan pesan whatsapp kepadanya,"Hey, jangan terlambat ya". Dan seingat yang aku tau, dia hanya membalas singkat juga.
.
.
Waktu untuk menjadi MC pun tiba, yang sebelumnya telah di dahului dengan beberapa gladi bersih kita berdua di lantai dua. Ya, selayaknya menjadi MC, walaupun jujur, aku kurang pas untuk jadi MC formal, tak pandai lebih tepatnya. Tapi malam itu dapat berjalan dengan lancar. Setelah kegiatan tasyakuran wisudawan dan wisudawati selesai, dia dengan tiba-tiba menghampiriku dan berkata,"Aku punya foto kita berdua, nanti aku kirim ke kamu". Sampai sini pun aku masih tidak menunjukkan gelagat kejang-kejang karena terbawa perasaan alias baper. Sungguh, aku masih normal waktu itu. Dan akhirnya aku hanya menjawab,"Oh ya, tak tunggu, nanti kirim ke aku". Setelah itu aku bergegas untuk membantu teman-teman lain berkemas peralatan kegiatan dan tak lagi memperhatikannya.
.
.
Sepulangnya dari kegiatan, seperti malam-malam yang ada, aku mulai rebahan setelah bersih-bersih diri. Tak kusangka pesanan gambar itu datang juga dengan di iringi nada notifikasi dari pesan whatsapp. Dengan sigap aku membuka pesan dan mengunduh gambar kirimannya. Dengan otomatis aku membalas dengan pesan,"Terimakasih ya, senang berkenalan denganmu". Setelah itu, biarkan itu menjadi bagian dari cerita berikutnya....

MIM
23 Maret 2019

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Progressive Reading Project

October 27, 2025 Book Title: The Curse of the Mummy Author: Joyce Hannam Year of Publication:  This book tells us about Tariq’s diary book. He accompanied Mr. Carter to find the tomb of Tutankhamun in Egypt. Tutankhamun had been a king when he was nine years old. Tariq also told that in Egyptian culture the tomb is very important. Mr. Carter had been searching Tutankhamun’s tomb five year’s along. He only had one more year to find Tutankhamun’s tomb. So, he should hurry for it. He hired a little yellow bird to help them find a Tutankhamun's tomb. Tariq was not believe that a bird can help them to find the tomb. Comment: The title of this book is very interesting because it shows adventures vibes. November 2, 2025 Suddenly Karim, Tariq's friend who help Mr. Carter and Tariq in this mission, said he find a new clue. He find a step in the sand that them dig together. Karim and Tariq tell it to Mr. Carter Immediately. Then they are very happy. Mr. Carter give them an order to keep ...

Terlalu Jauh

Sulit sekali rasanya mendeskripsikan apa yang sedang aku rasakan. Kecenderungan untuk terus merasa sensitif, mudah marah, murung berhari-hari, sulit berkomunikasi, senang menyendiri, dan kesulitan untuk tidur. Perasaan yang semakin hari semakin menguasai diri. Sulit menghindar apalagi meninggalkan. Di mana letak kesalahan diri ini? Mencoba menelusuri setiap persimpangan. Mencoba segala hal dari kebaikan hingga keburukan. Nyatanya sulit sekali untuk menemukan jawaban. Seolah diri ini dibuat bingung dengan keadaan. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang salah dalam diri ini? Sudah cukup lelah diri ini untuk terus mencari. Keputusasaan seolah telah menanti, melambai, dan mulai menghampiri. Pagi ini, tanpa sengaja terlintas dalam pikiranku untuk menonton podcast Ust. Felix Siauw dengan Remond Chin. Podcast yang membahas mulai dari pentingnya nalar berpikir dalam beragama, jodoh, hingga membahas persoalan pemimpin. Menelusuri detik demi detik dan cukup banyak hal baru yang diri ini peroleh. ...

Kedukaan Atau Apa Pun Namanya Adalah Pembelajaran Yang Mahal

Coba berhenti sejenak. Menengok ke belakang. Kemudian tanyakan pada diri sendiri. Kapan terakhir kali merasa sedih, kecewa, galau, susah, gundah, atau pun duka? Momen apa yang telah terlalui sampai perasaan tidak nyaman tersebut muncul di permukaan? Cobalah jawab. Resapi setiap momen dari jawaban yang keluar. Kemudian hati akan tersadar bahwa kedukaan atau apa pun namanya adalah pembelajaran yang mahal. Pembelajaran dengan rasa sakit, biasa timbul dari kesalahan. Kesalahan diri sendiri. Inilah yang utama. Mungkin karena terlalu sombong. Mungkin kurangnya bersyukur. Mungkin merasa tidak ada yang dapat mengalahkanku. Mungkin merasa aku adalah pusat dunia dan tata surya. Kesalahan yang menjerumuskan. Ibarat berjalan di jalan berlumut dengan sandal swallow, terpeleset. Jatuh. Tertumbuk benda tumpul. Memar. Akhirnya sulit untuk berjalan beberapa waktu. Namun setelahnya, akan jauh lebih berhati-hati. Akan lebih bijak. Akan lebih mawas diri. Seorang teman lama berkata dalam sebuah cuitan. Unt...